Spirit Kalteng

GFI Sukses Rehabilitasi Lahan dan Berdayakan Generasi Muda di Kalteng Melalui Program ‘Sakula Budaya’

54
×

GFI Sukses Rehabilitasi Lahan dan Berdayakan Generasi Muda di Kalteng Melalui Program ‘Sakula Budaya’

Sebarkan artikel ini
GFI Sukses Rehabilitasi Lahan dan Berdayakan Generasi Muda di Kalteng Melalui Program ‘Sakula Budaya’

Kegiatan pembukaan Workshop Penutupan Youth Program dan Evaluasi Program GFI Musim Tanam 2025/2026 di Aquarius Boutique Hotel Palangka Raya, Senin (4/5/2026). FOTO TABENGAN/RAHUL

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Yayasan Good Forest Indonesia (GFI) menggelar Workshop Penutupan Youth Program dan Evaluasi Program GFI Musim Tanam 2025/2026. Kegiatan yang berlangsung di Palace Ballroom, Aula Hotel Aquarius, Palangka Raya pada 4-5 Mei 2026 ini menjadi momentum penting dalam memaparkan capaian keberlanjutan lingkungan di Kalimantan Tengah.

Direktur Yayasan GFI, Fadhillah Hanum, dalam laporannya menyampaikan bahwa hingga saat ini GFI telah berhasil mendistribusikan lebih dari 500.000 bibit pohon kepada masyarakat. Komoditas yang disalurkan pun sangat beragam, mulai dari jengkol, petai, mangga, sengon, cempedak, hingga buah lokal khas Kalimantan seperti paken dan durian.

​”Bibit-bibit tersebut kami distribusikan sesuai dengan minat dan kebutuhan spesifik para petani serta masyarakat di lapangan,” ujar Fadhillah Hanum dalam paparannya.

​Selain distribusi bibit, program ini juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi dan mitigasi perubahan iklim secara nyata: ​Pemberdayaan Petani: Melibatkan hampir 500 petani di berbagai wilayah jaringan kerja GFI. ​Serapan Karbon: Upaya rehabilitasi ini mencatatkan kontribusi penyerapan karbon sebesar kurang lebih 1 juta ton, yang menjadi bagian dari aksi mitigasi perubahan iklim global.

​GFI menyadari bahwa masa depan lingkungan tidak lepas dari peran generasi muda. Oleh karena itu, bekerja sama dengan Borneo Institute Foundation, GFI mengembangkan program pemberdayaan pemuda yang dikenal dengan nama Sakula Budaya.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta kapasitas kepemimpinan anak muda dan remaja dalam isu lingkungan hidup. Tercatat, sebanyak 450 anak muda dari tujuh desa telah berpartisipasi aktif. Desa-desa tersebut meliputi: ​Linau, ​Tumbang Sumoi, ​Teurah,​Tanjurinu, ​Batu Nyapau, ​Sebangau Permai dan ​Sebangau Mulya.

​”Melalui Sakula Budaya, para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan lapangan dan diskusi interaktif berbasis pengalaman,” tambah Fadhillah.

​Fadhillah Hanum menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi solid antara petani, generasi muda, pemerintah, serta mitra donor. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya program Musim Tanam 2025/2026 ini.

Sementara itu ‎Direktur/Staf Ahli Borneo Institute, Standy Christianto menjelaskan jika pihaknya mendukung penuh program yang berkaitan dengan pelestarian alam dan merawat kebudayaan. Rmp