Dr. Tomy Haridjaya, S.Sos., MM.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalteng
TABENGAN.CO.ID-Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai memberikan gambaran yang semakin jelas mengenai kondisi kemampuan dasar peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan. Data ini menjadi penting karena tidak hanya menunjukkan capaian akademik, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai kualitas proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah.
Pada hasil TKA jenjang SD dan SMP, Kalimantan Tengah mencatat capaian Bahasa Indonesia sebesar 59,07 pada SD dan 59,44 pada SMP. Sementara itu, capaian Matematika berada pada angka 41,43 pada SD dan 39,99 pada SMP.
Terlihat bahwa Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek numerasi dan kemampuan berpikir akademik tingkat lanjut.
Namun demikian, data tersebut perlu dibaca secara lebih mendalam dan tidak sekadar dilihat sebagai angka hasil ujian.
TKA pada dasarnya bukan hanya mengukur kemampuan mengingat materi pelajaran, melainkan juga mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, menganalisis persoalan, membaca konteks, menarik kesimpulan, serta menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah.
Karena itu, hasil TKA sesungguhnya memberikan gambaran mengenai kualitas kemampuan berpikir akademik peserta didik.
Salah satu hal yang menarik dari hasil Kalimantan Tengah adalah capaian Bahasa Indonesia yang relatif berada pada posisi menengah. Ini menunjukkan bahwa peserta didik memiliki kemampuan dasar literasi yang cukup untuk memahami informasi sederhana dan membaca teks umum.
Namun tantangan terbesar tampaknya muncul ketika peserta didik harus menghadapi proses berpikir yang lebih kompleks.
Kemampuan membaca dalam konteks pendidikan modern tidak lagi sekadar kemampuan mengenali kata atau memahami kalimat. Peserta didik dituntut untuk mampu membaca hubungan antar gagasan, memahami makna implisit, melakukan inferensi, mengevaluasi informasi, dan menghubungkan berbagai informasi yang tersebar dalam suatu teks.
Kemampuan inilah yang menjadi dasar literasi akademik.
Hal yang sama juga terjadi pada numerasi.
Numerasi bukan hanya kemampuan melakukan perhitungan. Numerasi merupakan kemampuan memahami pola, hubungan, data, logika, dan pemecahan masalah. Dalam berbagai asesmen modern, termasuk TKA dan PISA, numerasi lebih banyak mengukur kemampuan berpikir daripada sekadar kemampuan menghitung.
Oleh karena itu, ketika capaian numerasi masih relatif rendah, hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa kemampuan penalaran sistematis peserta didik masih perlu diperkuat.
Dalam konteks Kalimantan Tengah, tantangan ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik wilayah yang unik.
Sebagai salah satu provinsi dengan wilayah yang sangat luas, kondisi geografis menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pemerataan layanan pendidikan. Jarak antar wilayah, akses terhadap berbagai sumber belajar, bimbingan belajar, ketersediaan tenaga pendidik, serta perbedaan kondisi sosial dan budaya belajar masyarakat turut membentuk kualitas pengalaman belajar peserta didik.
Karena itu, peningkatan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah perlu dilakukan melalui pendekatan penguatan ekosistem belajar.
Ekosistem belajar mencakup berbagai unsur yang memengaruhi perkembangan kemampuan peserta didik, mulai dari kualitas pembelajaran di kelas, budaya membaca, kualitas interaksi guru dan peserta didik, keterlibatan keluarga, lingkungan belajar yang aman secara psikologis, hingga akses terhadap sumber belajar yang bermutu.
Semakin baik ekosistem belajar yang terbentuk, semakin besar peluang berkembangnya kemampuan berpikir peserta didik.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan belajar yang kaya stimulasi cenderung memiliki perkembangan kemampuan berpikir yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang belajar dalam lingkungan yang minim interaksi intelektual.
Karena itu, pendidikan sejatinya juga merupakan proses sosial dan budaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mendorong berbagai program transformasi pendidikan melalui digitalisasi pembelajaran. Kehadiran perangkat digital pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital (PID), pemanfaatan platform Rumah Pendidikan, serta berbagai sumber belajar digital merupakan peluang besar bagi daerah seperti Kalimantan Tengah.
Teknologi memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya melalui visualisasi konsep, simulasi, eksplorasi informasi, dan pembelajaran yang lebih interaktif, dan kontekstual.
Namun pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat proses berpikir peserta didik. Teknologi tidak boleh berhenti sebagai alat presentasi, tetapi harus menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas penalaran, pemahaman konsep, dan kemampuan problem solving.
Selain itu, penguatan kompetensi guru tetap menjadi faktor yang menentukan.
Di era pembelajaran modern, guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik membangun pemahaman, mengembangkan rasa ingin tahu, melatih kemampuan berpikir kritis, dan membimbing proses refleksi belajar.
Karena itu, peningkatan mutu pendidikan memerlukan penguatan kapasitas guru dalam mengelola pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif berpikir, berdiskusi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah.
Hasil TKA perlu dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan intervensi peningkatan mutu pendidikan. Data ini dapat membantu pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, dan para guru untuk memetakan area yang perlu diperkuat serta merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
Pada akhirnya, tujuan utama pendidikan bukan hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal, tetapi menghasilkan generasi yang mampu berpikir, memahami, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan kehidupan secara bijaksana.
Melalui penguatan literasi, numerasi, pembelajaran mendalam, transformasi digital, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, Kalimantan Tengah memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan membangun generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.***











