-
Spirit Kalteng

Hotspot Kalteng Melonjak, 31 Ribu Terdeteksi di Bekas Food Estate

214
×

Hotspot Kalteng Melonjak, 31 Ribu Terdeteksi di Bekas Food Estate

Sebarkan artikel ini
KONDISI HOTSPOT 20 SEPTERMBER 2026. FOTO ISTIMEWA
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi provinsi dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia sepanjang 1–14 September 2026. Berdasarkan lembar fakta Pantau Gambut, tercatat sebanyak 77.311 titik panas di Kalteng atau sekitar 55 persen dari total 139.378 titik panas yang terdeteksi secara nasional pada periode tersebut.

Temuan itu tertuang dalam lembar fakta Pantau Gambut bertajuk “Titik Panas Turun Tapi Belum Mereda di Tengah September” yang diterbitkan di Jakarta, Senin (21/9/2026). Data yang digunakan mencakup periode 1–14 September 2026 dan masih bersifat berjalan.

Pantau Gambut mencatat, jumlah titik panas secara nasional selama periode tersebut mencapai 139.378 titik atau rata-rata sekitar 9.955 titik per hari.

Kalteng berada di urutan pertama dengan 77.311 titik panas. Posisi berikutnya ditempati Kalimantan Barat (Kalbar) dengan 31.595 titik atau sekitar 23 persen dari total nasional.

Jika digabungkan, Kalteng dan Kalbar menyumbang sekitar 78 persen dari seluruh titik panas yang terdeteksi di Indonesia selama 1–14 September 2026.

Sementara itu, provinsi lain yang tercatat memiliki jumlah titik panas cukup tinggi yakni Sumatera Selatan sebanyak 14.391 titik, Papua Selatan 4.875 titik, Kalimantan Selatan 3.364 titik, dan Riau 2.144 titik.

Konsentrasi titik panas di Kalteng juga terlihat pada kawasan bekas proyek Food Estate. Dari total 77.311 titik panas yang terdeteksi di provinsi tersebut, sebanyak 31.022 titik atau sekitar 40,1 persen berada di lima blok bekas area Food Estate.

Blok C menjadi kawasan dengan jumlah titik panas paling tinggi, yakni mencapai 18.082 titik. Pantau Gambut menyoroti konsentrasi tersebut sebagai salah satu temuan penting dalam pemantauan titik panas di Kalteng pada awal hingga pertengahan September 2026.

“Data menunjukkan adanya konsentrasi titik panas yang cukup besar pada kawasan bekas Food Estate di Kalimantan Tengah,” demikian temuan yang disampaikan Pantau Gambut dalam lembar faktanya.

Namun, keberadaan titik panas pada suatu kawasan tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab kebakaran maupun menentukan pihak yang bertanggung jawab.

“Temuan ini menunjukkan konsentrasi spasial hotspot, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan penyebab kebakaran ataupun pihak yang bertanggung jawab,” demikian penjelasan dalam laporan tersebut.

Pantau Gambut menekankan bahwa untuk menentukan penyebab kebakaran maupun pihak yang bertanggung jawab diperlukan pemeriksaan dan verifikasi di lapangan.

Data titik panas yang digunakan Pantau Gambut dihimpun dari sejumlah instrumen satelit. Berdasarkan sumber deteksinya, sekitar 61 persen berasal dari VIIRS, 32 persen dari SNPP, dan 8 persen dari MODIS.

Sekitar 90 persen titik panas yang terdeteksi berada pada tingkat keyakinan atau confidence nominal.

Data satelit tersebut pada dasarnya menunjukkan indikasi adanya anomali panas di permukaan bumi. Karena itu, keberadaan titik panas perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran dan mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

Besarnya konsentrasi titik panas di Kalteng, khususnya pada sejumlah kawasan bekas Food Estate, menjadi perhatian dalam pemantauan kondisi kebakaran dan karhutla pada September 2026.

Pantau Gambut menyatakan data yang disajikan masih bersifat berjalan sehingga kondisi dan jumlah titik panas dapat berubah seiring pembaruan data serta perkembangan pemantauan.

Dengan jumlah 77.311 titik panas dalam periode 1–14 September, Kalteng menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar terhadap total deteksi titik panas nasional pada periode tersebut. Namun, data tersebut perlu dibaca sebagai informasi mengenai distribusi dan konsentrasi titik panas, bukan sebagai bukti tunggal mengenai penyebab terjadinya kebakaran. ldw/ded-red

 

-
-
-