Kotawaringin Timur

Kisah Pilu Sekolah di Pedalaman Kotim

12
×

Kisah Pilu Sekolah di Pedalaman Kotim

Sebarkan artikel ini

SAMPIT/tabengan.co.id – Potret pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menorehkan kisah pilu. Tak hanya masalah sedikitnya jumlah siswa yang bersekolah, namun juga para tenaga pendidik berstatus pegawai negeri (PNS) yang semestinya memberikan ilmu pelajaran kepada siswa malah pindah ke lokasi lain.

Seperti yang terjadi di Desa Buntut Nusa Kecamatan Antang Kalang. Desa itu hanya memiliki satu-satunya Sekolah Dasar Negeri (SDN). Sekolah itu hanya menampung 7 orang siswa. Itupun hanya dari kelas satu hingga kelas tiga. Tenaga gurunya yang awalnya berjumlah dua orang, yakni guru berstatus honor dan guru berstatus pegawai negeri, kini hanya bersisa satu orang yakni guru honor.

Camat Antang Kalang Berdikari menceritakan, pasca ditinggal guru yang berstatus PNS, ada wacana agar sekolah tersebut lebih baik ditutup. Mendengar informasi itu, ia bersama pengawas sekolah langsung meninjau sekolah, Rabu (31/10).

Berdikari pun bermusyawarah dengan guru di sekolah juga beberapa warga supaya tetap bertahan mengelola sekolah itu. Sebab, ia mengkhawatirkan kondisi 7 orang siswa yang masih bersekolah jika sekolah ditutup.

Ia juga memotivasi pihak sekolah untuk tidak patah semangat karena ditinggal seorang pengajar. Apalagi tahun 2019 mendatang diprediksi ada dua tenaga guru PNS yang masuk hasil dari perekrutan CPNS 2018.

“Saya saat itu meminta agar aktivitas sekolah tetap berjalan seperti biasa. Kasihan anak-anak yang bersekolah di situ,” ujarnya kepada Tabengan, Rabu (31/10).

Ia juga menyarankan untuk biaya operasional sekolah bisa dikelola dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) termasuk untuk menggaji guru honor. Selama ini menurutnya guru honor di sekolah itu menerima gaji Rp750 ribu perbulannya.

Dirinya juga tidak mengetahui apa penyebab guru PNS berpindah lokasi ke pusat kota Kecamatan Antang Kalang. Ia mendapat kabar guru tersebut mendapatkan surat pindah dari Dinas Pendidikan.

“Memang desa ini masuk kategori desa terpencil. Untuk menuju ke desa ini saja dari Kecamatan Antang Kalang sangat jauh karena memerlukan waktu hingga 4 jam menggunakan kelotok,” jelasnya. c-may