“Saya mengajak GAMKI agar realistis, alih-alih pesimis atau terlalu optimis. Tantangan kebangsaan kita hari ini makin ramai di tengah isu krisis pangan dan naiknya komoditas global seperti migas dan batubara, imbas juga dari konflik antara Rusia dan Ukraina. GAMKI perlu menjadi pelaku utama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik lagi. Tidak lagi kita bisa mengandalkan orang lain. Sebagaimana saya membagikan pengalaman dalam membangun desa lewat Program Mamangun Tuntang Mahaga Lewu yang mengandalkan kolaborasi, saya berharap GAMKI bisa menghadirkan kerja-kerja kolaboratif bersama elemen masyarakat lainnya, demi memajukan bangsa, memajukan daerah kita tercinta,” kata Teras narang.
Sembari itu, mumpung ada Wamen LHK, Teras Narang menyampaikan catatan juga soal pengembangan food estate di Kalteng yang mengalami tantangan keberlanjutan, imbas dari terbatasnya anggaran. Tentu hal ini perlu dicarikan solusi agar tidak menjadi program mangkrak. Perencanaan ulang dan perhitungan kembali dukungan anggaran untuk program ini mesti dilakukan.
Perlu dikaji mandatory spending Anggaran Pendapatan Belanja Negara kita sekitar 81 persen harus dikeluarkan dari sekitar Rp2.700 triliun lebih. Dengan kondisi keuangan yang demikian dan krisis global yang dipicu oleh krisis di Ukraina, bagaimana kita menghadapi rencana pemindahan IKN. Belum lagi kita ada kebutuhan untuk berbagai program lainnya.
Ini menjadi catatan yang semoga menjadi bagian dari pemikiran GAMKI dalam mengawal perjalanan kebangsaan kita dari berbagai daerah karya mereka. Selamat mengemban amanah kepada jajaran DPD GAMKI Kalteng. ded
Teras Narang: GAMKI Harus Jadi Pemimpin, Bukan Pengawal











