-
Spirit Kalteng

Kemana Kaburnya 24 Ribu Itik Food Estate Belanti Siam?

101
×

Kemana Kaburnya 24 Ribu Itik Food Estate Belanti Siam?

Sebarkan artikel ini
Kepala Distan Kabupaten Pulpis Gopritson melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ibrahim
-

+Peternakan Itik Terbengkalai Bukan Tanggung Jawab Pemkab Pulpis

PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Pihak Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) menyampaikan secara tegas jika program pengembangan itik di kawasan food estate di Desa Belanti Siam, tidak masuk dalam pertanggungjawaban Pemerintah Kabupaten Pulpis.

Kepala Distan Kabupaten Pulpis Gopritson melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ibrahim, Senin (25/8), mengonfirmasi bahwa posisi kandang ternak itik berada di tengah hamparan sawah di Desa Belanti Siam.

“Saya jelaskan pak, program pengembangan itu milik Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor,” beber Ibrahim.

Dikatakan Ibrahim, program Balitnak ini berlangsung pada waktu awal program food estate tahun 2020 lalu. Hanya secara kebetulan, kata Ibrahim, lokasi perternakan unggas jenis itik ini berada di wilayah Kabupaten Pulpis.

“Kalau secara adminitrasi dan tanggung jawabnya bukan di kita pak. Itu semua adalah aset mereka Balitnak Bogor,” tegas Ibrahim.

Diakui Ibrahim, sebelumnya Pemkab Pulpis pada tahun 2021 lalu mendapat penyaluran lebih dari 24 ribu ekor unggas jenis itik petelur bersumber dari Dana APBN Pusat, yaitu dari Kementerian Pertanian, Dirjen Peternakan Pusat. Tetapi bukan Balitnak. Dan penyalurannya langsung pada tahun itu kepada 5 kecamatan di wilayah program food estate.

Para kelompok ini, kata Ibrahim, selain menerima ternak itik, dari kementerian juga menfasilitasi kandang, pakan, dan obat-obatan (paket lengkap). Namun, ia mengakui pada saat ini para kelompok tani itu tidak mampu melanjutkan program tersebut.

Ironisnya, saat ini puluhan ribu itik sudah tidak diketahui lagi ke mana rimbanya, meskipun sebelumnya pada saat Presiden RI Joko Widodo berkunjung, para petani berhasil mengembangkan ternak dan sempat surplus telur dari kelompok tani di Desa Belanti Siam. Para kelompok tani ini juga berhasil menarik keuntungan dengan rekening saldo ratusan juta yang dikantongi para kelompok tersebut.

Faktor kendala yang dihadapi kelompok tani baik Pulpis maupun Kapuas, tambah Ibrahim, penyebabnya adalah faktor pakan. Karena semuanya ketergantungan pakan pabrikan (pakan jadi) meskipun memiliki mesin pakan sendiri.

“Harga pakan jadi per saknya Rp475.000 sampai Rp500.000, ini yang membuat petani bebek kita gagal kemarin,” terangnya.

Lebih lanjut, dikatakan puluhan ribu itik-itik tersebut dibagi-bagikan ke anggotanya masing-masing. Pasalnya, kelompok tani sudah tidak sanggup membeli pakan jadi, dan bahkan mirisnya sebagian itik ada yang mati, sebagian itik dijual oleh para petani untuk membayar utang ke toko, yang sebelumnya membeli pakan jadi di toko. c-mye

-
-
-