Hukrim

DIDUGA JALAN DIRUSAK ANGKUTAN BATU BARA-Warga Kapuas Ancam Tutup Jalan PT STP

21
×

DIDUGA JALAN DIRUSAK ANGKUTAN BATU BARA-Warga Kapuas Ancam Tutup Jalan PT STP

Sebarkan artikel ini
DIDUGA JALAN DIRUSAK ANGKUTAN BATU BARA-Warga Kapuas Ancam Tutup Jalan PT STP
KUBANGAN- Kondisi jalan yang mengalami kerusakan dan menjadi kubangan akibat dilalui kendaraan milik PT STP di Kecamatan Kapuas Hulu.FOTO ISTIMEWA

KUALA KAPUAS/TABENGAN.CO.IDWarga Desa Katanjung, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, mengancam akan menutup akses jalan P2D yang selama ini digunakan oleh PT Sembilan Tiga Perdana (STP), perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. Hal ini disebabkan kondisi jalan yang rusak parah dan tak kunjung diperbaiki, hingga kini berubah menjadi kubangan serta tidak dapat dilalui kendaraan.

“Jika pihak STP tidak menunjukkan kepedulian, jangan salahkan warga jika akhirnya mengambil sikap tegas dengan menutup jalan. Jalan ini juga dipakai oleh perusahaan, tapi saat rusak malah diabaikan,” ujar Bariono Mardiani Alung, Kepala Desa Katanjung, saat dihubungi melalui telepon, Jumat (6/10).

Menurut Bariono, pernyataan tersebut disampaikannya setelah menerima banyak keluhan dari warga. Jalan yang dimaksud sudah rusak selama kurang lebih enam bulan dan kini sepanjang sekitar 500 meter berubah menjadi kubangan, sehingga tidak bisa dilalui baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Padahal, lanjutnya, jalan P2D yang berada di jalur dari camp atau PIT belakang workshop STP menuju simpang Katanjung–Sei Hanyo itu selama ini juga menjadi jalur alternatif bagi armada kendaraan perusahaan serta pengguna lainnya.

Kades Bariono juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah beberapa kali menyampaikan keluhan ini secara lisan kepada pihak manajemen STP, namun belum ada tanggapan yang berarti.

Berdasarkan koordinasi terakhir dengan Sudiro, salah satu karyawan STP, pihak desa diminta untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan Eko Nandar dari bagian humas perusahaan.

“Saat saya hubungi via telepon, Eko Nandar menyampaikan bahwa dirinya sedang cuti, dan menyarankan agar desa mengirimkan surat permohonan resmi ke perusahaan. Surat tersebut nantinya akan disampaikan ke manajemen,” ungkapnya.

Bariono mengaku sebenarnya enggan membawa persoalan ini ke ruang publik. Namun, karena desakan warga dan agar tidak dianggap mengabaikan aspirasi mereka, ia merasa perlu menyampaikan masalah ini secara terbuka.

“Saya berharap pihak perusahaan segera memberikan perhatian serius. Warga ingin akses jalan ini kembali bisa dilalui dengan aman dan nyaman. Jangan sampai warga benar-benar menutup jalan tersebut baru kemudian ada respons,” pungkasnya.c-yul