Hukrim

Hutan Kotim Dibabat Ribuan Hektare

25
×

Hutan Kotim Dibabat Ribuan Hektare

Sebarkan artikel ini
Hutan Kotim Dibabat Ribuan Hektare
Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kotim Hardi P Hady

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Pembukaan hutan di Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu kekhawatiran masyarakat. Aktivitas dugaan pembabatan hutan oleh perusahaan di wilayah itu telah mengubah wajah kawasan hutan dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang semakin berat ditanggung warga.

Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara  Kotim Hardi P Hady mengatakan,  pembukaan lahan oleh PT Bintang Sakti Lenggana (BSL) berlangsung di area yang sebagian besar masih berupa hutan utuh. Temuan warga menunjukkan bahwa kawasan yang seharusnya tetap menjadi ruang ekologis kini dibabat.

“Di sana itu masih hutan sebenarnya, lebih sebagian besarnya hutan. Tapi mereka masih menggarap,” ujarnya.

Menurutnya, laju pembabatan berlangsung cepat dalam dua tahun terakhir. Warga memperkirakan sekitar seribu hektare hutan sudah terbuka, dengan hampir separuhnya telah ditanami sawit dan mulai berproduksi. Pembukaan baru terus berjalan, bahkan lebih dari 500 hektare di antaranya kini memasuki masa panen.

“Sudah terbuka tidak kurang dari 1.000 hektare. Sudah ditanam dan berproduksi itu 500 hektare. Dan dalam satu tahun terakhir ini saja, 500 sampai 600 hektare lagi kembali terbuka,” jelasnya.

Menurutnya, dampak dari hal tersebut sudah mulai dirasakan warga. Hardi menuturkan, perubahan tutupan lahan membuat daerah aliran sungai kehilangan penyangga alami sehingga volume air naik ketika hujan tiba. Intensitas banjir yang meningkat diduga menjadi bukti nyata kerusakan tersebut.

“Sekarang musim hujan langsung kelihatan meluap air. Kalau dulu sepuluh tahun sekali banjir di daerah kami, sekarang bisa sepuluh kali dalam satu tahun,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, meskipun wilayah itu tidak memiliki topografi ekstrem seperti di Pulau Jawa atau Sumatera, dampaknya tetap signifikan terhadap keseharian masyarakat. Rumah terendam, dan membuat aktivitas terhenti

“Kalau banjir masuk rumah, kan nggak bisa kerja lagi. Dampaknya tetap ada meskipun kami tidak tinggal di daerah yang rawan longsor,” tuturnya. c-may