PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Awal tahun 2026 masyarakat Kota Palangka Raya dikejutkan oleh peristiwa penemuan dua jenazah pria yang diduga nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat dan menjadi perhatian serius kalangan psikolog di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Islam Universitas Islam Negeri (BKI UIN) Palangka Raya Ari Pamungkas, menilai kejadian tersebut sebagai peristiwa yang sangat memprihatinkan dan perlu dipahami secara jernih dari sudut pandang psikologi.
“Pada umumnya, tindakan bunuh diri bukanlah keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari proses panjang tekanan batin yang terus menumpuk dan tidak tersalurkan dengan baik,” jelas Ari saat diwawancarai Tabengan, Kamis (8/1).
Ia menerangkan, secara psikologis individu yang berada dalam kondisi depresi berat mengalami kelelahan mental dan emosional. Hal tersebut membuat cara berpikir menjadi semakin sempit, dipenuhi rasa putus asa, serta sulit melihat harapan maupun solusi atas permasalahan hidup yang dihadapi.
Menurut Ari, orang yang mengalami depresi biasanya menunjukkan perubahan perilaku dan emosi, meskipun tidak selalu disadari oleh lingkungan sekitar. Tanda-tandanya antara lain menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya bermakna, mudah lelah, gangguan tidur, serta muncul perasaan hampa dan tidak berharga.
“Individu juga bisa tampak lebih sensitif, murung, sering menyalahkan diri sendiri, hingga mulai mengungkapkan keputusasaan atau pada tahap tertentu mulai pembicaraan tentang kematian. Ini merupakan tanda serius bahwa seseorang membutuhkan perhatian dan bantuan psikologis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ari menjelaskan bahwa secara psikologis, dinamika seseorang hingga nekat mengakhiri hidup berlangsung secara bertahap. Proses tersebut biasanya diawali oleh tekanan hidup yang terus-menerus, seperti masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan, maupun hubungan sosial, yang tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai.
“Tekanan yang berkepanjangan ini menimbulkan kelelahan mental, rasa gagal, tidak berdaya, dan kehilangan harapan. Dalam kondisi depresi berat, pikiran tentang kematian sering kali muncul bukan karena benar-benar ingin mati, melainkan sebagai upaya untuk menghentikan penderitaan batin yang dirasakan sudah tidak tertahankan,” paparnya.
Ia menegaskan, kemampuan seseorang dalam menilai dan mengambil keputusan pada kondisi tersebut telah terganggu secara psikologis, sehingga membutuhkan pendampingan profesional dan dukungan lingkungan.
Peristiwa ini, menurut Ari, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat akan pentingnya kepedulian dan empati, yang sejatinya sejalan dengan nilai agama dan budaya bangsa. Banyak orang memilih memendam tekanan batin karena takut dianggap lemah atau kurang iman, padahal mencari pertolongan merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga kehidupan yang dianugerahkan Tuhan.
”Masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitar, tidak mudah menghakimi, serta menghadirkan ruang aman untuk saling mendengar dan menguatkan. Dukungan emosional sederhana dari lingkungan sering kali menjadi penopang utama bagi seseorang untuk tetap bertahan,” pungkasnya. mak











