Ekobis

Developer Kalteng Minta Penyesuaian Harga Rumah Subsidi-Harga Material Naik Imbas BBM

73
×

Developer Kalteng Minta Penyesuaian Harga Rumah Subsidi-Harga Material Naik Imbas BBM

Sebarkan artikel ini
Developer Kalteng Minta Penyesuaian Harga Rumah Subsidi-Harga Material Naik Imbas BBM
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kalteng Asani

​PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya jenis Pertamina Dex dan Dexlite, mulai memberikan efek domino yang signifikan terhadap sektor properti dan konstruksi di Kalimantan Tengah (Kalteng). Tidak hanya memicu kenaikan harga bahan pokok, biaya material bangunan kini melonjak tajam akibat tingginya beban logistik.

​Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kalteng Asani mengungkapkan, para pengembang saat ini berada dalam posisi sulit. Kenaikan harga BBM secara otomatis mengerek harga material bangunan di pasaran, yang seharusnya diikuti dengan penyesuaian harga jual unit rumah.
​Namun, Asani menjelaskan bahwa fleksibilitas harga hanya berlaku pada segmen rumah komersil. Sementara itu, untuk rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) atau rumah subsidi tipe 36, pengembang tidak bisa berkutik karena harga jualnya dipatok oleh pemerintah.
​”Untuk kita developer sangat berpengaruh karena kenaikan BBM membuat harga material bangunan semua naik. Otomatis harga rumah seharusnya naik, tapi yang bisa naik hanya di rumah komersil,” ujar Asani kepada Tabengan, Rabu (29/4/2026).

​Saat ini, harga rumah subsidi di wilayah Kalteng masih tertahan di angka Rp182 juta. Kondisi ini menyebabkan margin keuntungan pengembang menyusut drastis. Asani berharap pemerintah segera mengeluarkan kebijakan baru untuk menyesuaikan harga rumah MBR agar sektor properti tetap sehat.

​Sektor transportasi logistik menjadi rantai pertama yang terdampak. Sar, seorang pengemudi truk lintas provinsi, mengaku penghasilannya kian menipis. Upah angkut yang stagnan tidak sebanding dengan biaya operasional yang membengkak akibat kenaikan BBM.

​”Karena upah angkut belum ada kenaikan sedangkan BBM naik, tentu membuat penghasilan kami menjadi tipis. Tidak sama dengan sebelum kenaikan,” keluh Sar kepada Tabengan.

​Kenaikan biaya operasional truk ini langsung berdampak pada harga jual material di tingkat konsumen. Berdasarkan keterangan Sar, harga pasir dan batu mengalami lonjakan.

​”Tentunya harga pasir dan batu juga ikut naik. Awalnya per kubik seharga Rp55.000, setelah kenaikan BBM ini, harga per kubiknya naik menjadi Rp70.000,” ungkapnya.

Di lapangan, harga eceran per truk (ret) bahkan menyentuh angka yang memberatkan masyarakat. Rani, seorang warga di Jalan G Obos Palangka Raya yang sedang membangun rumah, mengeluhkan harga pasir yang kini menembus Rp1,3 juta per ret.

​”Dulu masih bisa dijangkau, sekarang sudah segitu. Ini cukup memberatkan bagi kami yang sedang membangun,” tuturnya.

​Hal senada diamini oleh Udi, pelaku usaha material. Ia menjelaskan bahwa rute pengambilan pasir dari Tangkiling menuju Palangka Raya kini memang dipatok di harga Rp1,3 juta per ret karena faktor BBM dan tingginya permintaan.

​Para pelaku usaha dan pengembang berharap Pemerintah Daerah maupun Pusat dapat segera turun tangan untuk mengendalikan harga material bangunan. Tanpa intervensi, dikhawatirkan aktivitas pembangunan di Kalteng akan lesu, dan impian masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki hunian layak akan semakin sulit tercapai. rmp/jsi-red

FOTO KETUA DPD REI KALTENG