PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Universitas Palangka Raya (UPR) dinilai memiliki peran penting sebagai ruang aktualisasi ilmu pengetahuan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Damai Alam Usop, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR yang juga pengurus Ikatan Alumni Universitas Palangka Raya (ILUNI UPR), saat menyoroti tantangan perguruan tinggi di era modern sekaligus harapan terhadap kepemimpinan Rektor UPR periode 2026–2030.
Menurut Damai, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan multidimensional. Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan kampus yang adaptif, progresif, serta mampu menjawab perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai lokal dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“UPR harus terus menjadi wadah aktualisasi ilmu pengetahuan yang diterapkan langsung kepada masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang teoritis, tetapi harus mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sosial, ekonomi, teknologi, hingga pembangunan daerah,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Ia menilai disrupsi teknologi, khususnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), menjadi salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dinilai memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, sehingga perguruan tinggi dituntut mampu menyesuaikan sistem pembelajaran, kurikulum, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, integrasi teknologi dan AI dalam dunia pendidikan kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja modern.
“Perguruan tinggi harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing global,” katanya.
Selain itu, Damai juga menekankan pentingnya penguatan hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja melalui konsep link and match. Ia menilai penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi profesi, serta kolaborasi dengan berbagai sektor strategis menjadi langkah penting untuk mempersiapkan lulusan menghadapi tantangan kerja di masa depan.
Di sisi lain, ia menyoroti tata kelola perguruan tinggi yang dinilai menjadi tantangan besar, terutama terkait kemandirian finansial, pengelolaan aset, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
“Perguruan tinggi harus mampu membangun tata kelola yang transparan, profesional, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kemandirian institusi menjadi faktor penting agar universitas dapat terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.
Damai juga menegaskan pentingnya membangun lingkungan kampus yang aman, sehat, dan berintegritas. Menurutnya, isu kekerasan seksual, perundungan, hingga degradasi moral harus menjadi perhatian serius seluruh elemen perguruan tinggi.
“Kampus harus menjadi ruang yang aman dan beretika. Pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual dan perundungan harus dilakukan secara tegas dan berkelanjutan demi menciptakan lingkungan akademik yang sehat,” tegasnya. fwa











