+Isu Penimbunan Minyak Menguat?
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Kelangkaan minyak goreng subsidi Minyakita mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya. Di kawasan Mendawai misalnya, produk yang selama ini menjadi pilihan masyarakat tersebut dilaporkan semakin sulit ditemukan di pasaran, sementara harga jualnya juga mengalami kenaikan hingga lebih dari Rp20 ribu.
Kondisi itu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Palangka Raya. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin memastikan, pihaknya telah mengambil langkah-langkah strategis guna mengatasi persoalan distribusi dan menjaga ketersediaan pasokan Minyakita bagi masyarakat.
Menurut Fairid, pemerintah daerah telah menggelar rapat koordinasi untuk memetakan permasalahan yang terjadi sekaligus menyusun solusi yang dinilai paling efektif. Berbagai informasi dari lapangan juga telah dihimpun sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan.
“Kami sudah menggelar rapat terkait persoalan tersebut dan sejumlah solusi juga sudah disiapkan. Kami sudah mendapatkan berbagai informasi terkait kondisi yang terjadi dan saat ini sedang melihat perkembangan situasinya,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu fokus pemerintah adalah mengurai dan memotong rantai permasalahan yang diduga menjadi penyebab terganggunya distribusi minyak goreng subsidi tersebut. Dengan langkah itu, pemerintah berharap pasokan kembali lancar sehingga harga dapat berangsur stabil.
Pemko, lanjut Fairid, juga belum ingin berspekulasi terkait berbagai dugaan yang berkembang di masyarakat, termasuk isu penimbunan minyak goreng yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor penyebab kelangkaan.
Menurutnya, proses penanganan masih berlangsung sehingga diperlukan kehati-hatian sebelum menyampaikan kesimpulan kepada publik.
“Kalau prosesnya belum selesai, tentu kami tidak bisa memberikan penilaian atau menyimpulkan sesuatu. Dalam proses penanganan, banyak informasi yang muncul dan belum tentu semuanya benar atau salah,” katanya.
Di tengah keresahan masyarakat akibat sulitnya memperoleh Minyakita, Fairid menegaskan pemerintah menargetkan persoalan tersebut dapat segera diselesaikan. Berbagai upaya terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng subsidi dapat terpenuhi kembali.
“Ini memang menjadi isu yang sedang kami tangani. Targetnya tentu secepat mungkin. Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar persoalan ini dapat segera teratasi,” tegasnya.nws/fwa-red
Over Permintaan, Masyarakat Bawah, Menengah dan Atas Buru Minyakita?
Stok Minyakita dikabarkan langka di beberapa daerah. Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkap biang kerok langkanya stok minyak goreng rakyat tersebut.
Zulhas menyampaikan bahwa Minyakita sejatinya berasal dari minyak curah. Semasa dirinya menjabat sebagai Mendag, minyak curah tersebut kemudian dikemas menjadi Minyakita.
“Dasarnya Minyakita didistribusikan di pasar tradisional. Namun, dalam perkembangannya minyak goreng itu diburu masyarakat bahkan dijual di supermarket,” terangnya.
Harusnya, imbuh Zulhas, kalau ritel modern itu kan banyak merek yang yang premium. Yang ini minyak curah yang ada di pasar, tapi sekarang semua orang beli itu, ya tentu kurang kalau semua membeli Minyakita.
Ditegaskannya bahwa secara umum, stok minyak goreng masih cukup. Khusus Minyakita, pemerintah akan mendistribusikan ke pasar tradisional.
“Tapi kan ada premium, ya ada merek-merek lain, bedanya kan enggak banyak juga. Kalau Minyakita Rp16.000, itu Rp17 (ribu) biasanya gitu,” katanya.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengakui stok Minyakita di lapangan menipis.
Rizal menjelaskan kuota tersebut dibagi untuk tiga BUMN, yakni Bulog 70%, ID Food 20%, dan Agrinas Palma 10%. Namun, Rizal mengakui harus pintar mengatur ritme penyaluran karena ada tugas penyaluran bantuan pangan kepada lebih dari 33 juta Keluarga Penerima Manfaat.
Pasokan yang tersendat membuat harga di pasaran menembus Rp20.000 hingga Rp30.000 per liter, jauh melampaui HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Penyebab Kelangkaan dan Tingginya Harga
Penurunan DMO: Kementerian Perdagangan mencatat adanya penurunan realisasi Domestic Market Obligation (DMO) dari produsen, yang menyebabkan pasokan untuk masyarakat berkurang secara signifikan.
Kendala Distribusi: Perum Bulog menyebutkan bahwa 75% distribusi utama MinyaKita masih dikuasai oleh pihak swasta melalui distributor tingkat 1 (D1) dan D2, sehingga pengawasannya lebih menantang.
Geopolitik & Tantangan Produksi: Pemerintah mengidentifikasi faktor lain seperti kondisi geopolitik global yang memengaruhi biaya produksi dan rantai pasok minyak mentah. ist/red











