PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya masih menjadi ancaman serius. Di tengah luas lahan terbakar yang terus bertambah, operasi dua helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru telah berakhir sejak 8 Oktober 2026.
Hingga 13 Oktober 2026, luas lahan yang terbakar di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut mencapai 1.444,34 hektare dengan total 887 kejadian kebakaran. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas yang masih berjibaku memadamkan api di sejumlah wilayah.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, kondisi kabut asap saat ini menjadi salah satu kendala bagi operasional helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara. Karena itu, penanganan karhutla sementara ini mengandalkan upaya petugas di darat.
“Yang pasti, sejauh yang saya ketahui, dengan kondisi kabut asap saat ini, helikopter tidak bisa terbang,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Pengakhiran operasi dua helikopter tersebut tertuang dalam instruksi demobilisasi helikopter C-FIZA dan C-FPUM milik PT Dominic Asasta Aviasi. Instruksi itu menindaklanjuti surat permohonan BNPB tertanggal 6 Oktober 2026.
Dalam ketentuan tersebut, proses demobilisasi dapat dimulai pada 8 Oktober dengan mempertimbangkan kebutuhan, situasi, serta kondisi di lapangan. Proses pemulangan helikopter ditargetkan selesai dan tiba di lokasi asal atau tujuan akhir paling lambat 31 Oktober 2026, dengan menyesuaikan masa status tanggap darurat.
Instruksi itu juga mengatur bahwa apabila proses demobilisasi masih berlangsung setelah status keadaan darurat bencana berakhir, biaya yang timbul tidak lagi menjadi tanggung jawab BNPB.
Di sisi lain, karhutla di Palangka Raya masih menunjukkan dampak yang cukup besar. Dari total 887 kejadian kebakaran yang tercatat hingga 13 Oktober, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 532 kejadian. Disusul Sebangau sebanyak 184 kejadian, Bukit Batu 86 kejadian, Pahandut 79 kejadian, dan Rakumpit enam kejadian.
Fairid menegaskan, petugas gabungan dan relawan terus berupaya maksimal untuk mengendalikan kebakaran. Namun, perjuangan di lapangan tidak mudah, terlebih dengan kondisi api dan asap yang masih menyulitkan penanganan.
Ia pun meminta masyarakat memberikan dukungan moral kepada seluruh personel yang terlibat dalam pemadaman. Menurutnya, kesehatan petugas harus menjadi perhatian bersama karena mereka berada di garis depan menghadapi ancaman karhutla.
“Saya juga berharap kita semua mendoakan agar seluruh tim diberikan kesehatan. Mereka sudah berjuang di lapangan,” katanya.
Fairid berharap kebakaran dapat segera dikendalikan, tidak hanya di Palangka Raya, tetapi juga di seluruh wilayah Kalteng dan Kalimantan. Ia mengakui berbagai upaya telah dilakukan, meskipun kondisi kebakaran dan kabut asap masih menjadi tantangan berat.
“Kita sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi kondisi api dan asap memang luar biasa,” pungkasnya. nws/fwa-red











