PALANGKARAYA/TABENGAN.CO.ID– Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung mereda memberi tekanan berat bagi roda perekonomian. Udara yang kian pekat oleh kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Pengamat Ekonomi, Fitria Husnatarina, mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas ekonomi semakin terasa seiring memburuknya kualitas udara. Pada awal bencana, masyarakat masih bisa beraktivitas dengan masker, namun kini kondisi asap yang sangat pekat membatasi aktivitas tatap muka dan mobilitas warga di luar rumah.
“Dampaknya sangat terasa bagi UMKM yang bergantung pada interaksi langsung atau berjualan di pasar. Penurunan omzet pelaku usaha mikro dan kecil diperkirakan mencapai kisaran 50 persen akibat berkurangnya daya beli dan perubahan prioritas pengeluaran masyarakat,” ujar Fitria.
Menurutnya, masyarakat kini lebih memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan kesehatan, seperti membeli masker dan kebutuhan medis pendukung.
Fitria menambahkan, situasi ini memaksa pelaku usaha untuk beradaptasi, salah satunya dengan beralih ke penjualan berbasis digital atau online.
Dalam kondisi ini, peran pengemudi ojek online menjadi tumpuan penting sebagai penggerak rantai pasok kebutuhan harian masyarakat. Namun, langkah ini dinilai belum cukup kuat untuk memicu percepatan pemulihan ekonomi secara menyeluruh.
Dampak karhutla juga turut dirasakan oleh pelaku usaha skala besar dan korporasi. Terbatasnya jarak pandang mengganggu rantai pasok, meningkatkan biaya produksi, serta menurunkan produktivitas tenaga kerja. Jika bencana ini terus berlarut, momentum pertumbuhan ekonomi tahunan, seperti perayaan Natal dan Tahun Baru, diproyeksikan tidak akan memberikan dampak signifikan bagi geliat pasar.
Guna mengatasi persoalan ini, Fitria menekankan pentingnya penanganan yang tidak sekadar bersifat reaktif. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama menyusun cetak biru (blueprint) pembangunan dan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
“Penanganan karhutla harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan agar bencana serupa tidak terus berulang. Kunci pemulihan ekonomi ada pada komitmen bersama untuk menciptakan ekosistem daerah yang tangguh dan bebas dari bencana karhutla di masa depan,” pungkasnya. rmp/jsi-red











