PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Tak ingin terus berurusan dengan polisi, sejumlah joki dan mekanik balap liar di Kota Palangka Raya akhirnya menyatakan kesediaan meninggalkan jalanan dan beralih ke arena balap resmi. Mereka bahkan mengusulkan kawasan Terminal WA Gara sebagai lokasi alternatif untuk menyalurkan hobi otomotif, dengan jadwal pelaksanaan satu hingga dua kali dalam sepekan.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam audiensi belasan perwakilan pemilik bengkel, mekanik, dan joki balap liar bersama Satlantas Polresta Palangka Raya di Kantor Satlantas Polresta Palangka Raya, Jumat (9/10/2026).
Kasatlantas Polresta Palangka Raya Kompol Hermanto mengatakan, pihaknya serius berupaya menghentikan aksi balap liar yang masih kerap berlangsung di sejumlah ruas jalan, bahkan hingga dini hari. Karena itu, kepolisian membuka ruang dialog untuk mencari solusi agar hobi balap dapat disalurkan di tempat yang tepat tanpa membahayakan pengguna jalan lainnya.
“Tujuan kami mengumpulkan ini, kami pingin balapan liar di jalan sudah tidak ada lagi. Makanya kita salurkan, biar disalurkan di tempat yang sebenarnya,” katanya.
Menurut Hermanto, rencana penyediaan arena balap tersebut telah dikomunikasikan dengan Pemerintah Kota Palangka Raya. Ada dua lokasi yang menjadi alternatif pembahasan, yakni Sirkuit Sabaru dan kawasan pengujian kendaraan bermotor atau KIR di Terminal WA Gara.
Dari hasil diskusi bersama perwakilan komunitas, Terminal WA Gara lebih diminati. Salah satu alasannya berkaitan dengan kemampuan peserta dalam memenuhi persyaratan perlengkapan keselamatan apabila balapan digelar di sirkuit.
Hermanto menjelaskan, sejumlah peserta mengaku keberatan dengan biaya perlengkapan balap, termasuk werpak atau pakaian balap, yang harganya relatif mahal.
“Kalau di sirkuit mereka tidak mampu karena harus menyiapkan werpak. Sementara harga werpak kita tahu tidak ada yang murah,” jelasnya.
Meski demikian, pemanfaatan Terminal WA Gara belum diputuskan secara final. Kepolisian masih akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk membahas kelayakan lokasi, jadwal, serta teknis pelaksanaan agar kegiatan nantinya berlangsung tertib dan berada dalam pengawasan.
Dalam audiensi tersebut, para joki dan mekanik mengusulkan arena balap dapat digunakan satu hingga dua kali dalam sepekan. Waktu yang diusulkan antara lain malam Minggu atau Minggu sore.
Hermanto menegaskan, persoalan balap liar tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Selain mengganggu ketertiban umum, aktivitas tersebut berisiko menimbulkan kecelakaan, terlebih jika dilakukan pada dini hari di jalan raya.
“Kita tak mau berlarut-larut karena balapan ini kita tahu sendiri sudah sangat memprihatinkan. Anak-anak kita balapan pukul 01.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Jam segitu bukan jam mereka untuk balapan, harusnya untuk istirahat,” tegasnya. dte/mak/fwa-red











