PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Rencana pemanfaatan Terminal WA Gara di Kota Palangka Raya sebagai lokasi balapan resmi menuai keberatan dari warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.
Kebisingan knalpot, ancaman keselamatan pengguna jalan, hingga terganggunya akses keluar masuk permukiman menjadi sejumlah persoalan yang dikhawatirkan masyarakat.
Warga menilai, penentuan lokasi untuk mengakomodasi aktivitas balapan tidak cukup hanya mempertimbangkan kebutuhan para pembalap, tetapi juga harus memperhatikan kenyamanan dan keamanan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Listia Marwah (29), warga yang bermukim tepat di belakang terminal, mengaku keberatan apabila kawasan tersebut digunakan sebagai arena balapan.
Menurutnya, suara kendaraan dengan knalpot bising berpotensi mengganggu ketenangan warga, terlebih jika kegiatan berlangsung hingga malam hari.
“Kalo memang tempat ini dijadikan balapan, sebenarnya kami sangat terganggu. Karena suara knalpot brong dari sekitar terminal terdengar sampai kerumah hingga mengganggu waktu istirahat,” ujarnya saat ditemui wartawan, Kamis (15/10/2026).
Ia juga menyoroti akses jalan di sekitar terminal yang selama ini digunakan masyarakat untuk keluar masuk permukiman. Apabila akses tersebut terganggu akibat pelaksanaan balapan, warga terpaksa mencari jalur alternatif yang lebih jauh.
Tak hanya itu, Listia mengkhawatirkan potensi kecelakaan akibat aktivitas kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi di sekitar kawasan permukiman. Ia menyebut, warga bahkan beberapa kali menghadapi situasi yang nyaris membahayakan keselamatan mereka.
Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan keselamatan anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar. Listia berharap rencana penggunaan terminal dikaji kembali agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di kawasan itu.
Selain itu, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya saat balapan berlangsung, melainkan juga pergerakan kendaraan sebelum dan sesudah kegiatan. Jalan Kalibata serta gang-gang kecil yang menjadi akses warga menuju rumah, menurutnya, perlu mendapat perhatian agar tidak menjadi jalur yang membahayakan masyarakat.
“Disini juga jadi jalan akses keluar masuk kami juga dan ada tembusan jalan Kalibata. Sedangkan kita tidak tau kapan mau keluar, kadang malam atau sore, nah itu sering kejadian hampir di tabrak,” bebernya.
Ia berharap, kegiatan balapan dilaksanakan di lokasi yang memang diperuntukkan bagi aktivitas tersebut sehingga tidak menimbulkan keresahan di lingkungan tempat tinggal warga.
“Lebih baik mereka ke sirkuit Sabaru saja. Ini terminal, bukan tempat balapan,” tegasnya.
Menanggapi keberatan masyarakat, Kasatlantas Polresta Palangka Raya Kompol Hermanto menuturkan bahwa penggunaan Terminal WA Gara sebagai lokasi balapan masih sebatas usulan.
Penentuan lokasi, menurutnya, harus mempertimbangkan aspek keselamatan serta respons masyarakat di sekitar kawasan.
Hermanto mengakui, mencari lokasi yang sesuai bukan perkara mudah. Kawasan Tilung, misalnya, memiliki kendala karena kondisi permukiman yang sudah padat.
“Sebenarnya ini hanya usulan saja. Penentuan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan serta respon masyarakat sekitar kawasan tersebut,” tuturnya.
Menurutnya, apabila lokasi yang diusulkan mendapat penolakan dari masyarakat, pihaknya terbuka untuk mempertimbangkan alternatif lain. Ia juga mengakui telah menerima keluhan warga mengenai kebisingan knalpot brong di kawasan Terminal WA Gara.
Menurutnya, laporan masyarakat terkait aktivitas balapan liar di kawasan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi kegiatan selanjutnya.
“Kita cari alternatif lain. Sebelumnya kita juga ada menerima laporan terkait balap liar hingga suara bising knalpot brong dari kawasan Terminal WA Gara,” tambahnya.
Selain Terminal WA Gara, Sirkuit Sabaru juga disebut sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan. Meski demikian, kesiapan fasilitas pendukung dan pemenuhan standar keselamatan tetap menjadi bagian penting sebelum lokasi digunakan. dte











