-
Hukrim

Kelaparan Akibat Karhutla, Orangutan Irawati Dievakuasi

72
×

Kelaparan Akibat Karhutla, Orangutan Irawati Dievakuasi

Sebarkan artikel ini
EVAKUASI-Irawati, orangutan yang dievakuasi setelah kelaparan akibat karhutla. FOTO BKSDA KALTENG
-

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya merusak habitat, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Seekor orangutan betina bernama Irawati berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) dari kawasan hutan bekas terbakar di Jalan Tjilik Riwut Km 9, jalur Sampit-Kota Besi, Rabu (14/10/2026).

Orangutan berusia sekitar 20 tahun dengan berat badan 28 kilogram itu diduga kesulitan mendapatkan makanan akibat kerusakan habitat. Saat pertama kali ditemukan warga, Irawati berada di tanah sebelum memanjat pohon ketika melihat manusia.

Proses evakuasi berlangsung hingga malam hari dengan melibatkan petugas BKSDA Pos Sampit, tim Yayasan Orangutan Foundation International (OFI), serta aktivis lingkungan setempat. Petugas harus melewati jalur sempit dan medan sulit sebelum berhasil mengevakuasi Irawati dari atas pohon setinggi sekitar 10 meter.

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya menerima laporan warga sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas kemudian mendatangi lokasi untuk memantau keberadaan orangutan tersebut sambil menunggu kedatangan tim penyelamat dari Pangkalan Bun.

“Orangutan saat terdesak, saat kebakaran, akan berpindah ke tempat yang lebih baik. Kami menduga kuat orangutan tadi mencari makan dan terlihat oleh warga, selanjutnya oleh warga dilaporkan kepada petugas BKSDA,” ujarnya.

Tim OFI tiba di lokasi sekitar pukul 18.30 WIB. Petugas kemudian berupaya mengarahkan Irawati ke posisi yang memungkinkan pembiusan dilakukan secara aman.

Setelah beberapa kali upaya, petugas berhasil membius orangutan tersebut. Namun, tubuhnya tidak langsung terjatuh karena tertahan di antara ranting pohon. Tim pun menyiapkan jaring untuk membantu menurunkannya dengan hati-hati.

Sekitar pukul 19.15 WIB, Irawati berhasil diturunkan ke jaring yang telah disiapkan. Selanjutnya, ia dibawa keluar dari kawasan bekas terbakar untuk menjalani pemeriksaan awal oleh dokter hewan OFI, drh. Ichlasul Khaerul.

Hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda patah tulang maupun luka pada tubuh Irawati. Petugas juga tidak mendapati bekas proyektil atau peluru. Pemeriksaan menggunakan stetoskop menunjukkan kondisi suara paru-parunya masih baik dan belum ditemukan gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ichlasul mengatakan, secara umum kondisi Irawati masih cukup baik berdasarkan pemeriksaan awal. Respons berupa gerakan tubuh dan suara yang dikeluarkan saat berada di pohon juga menjadi salah satu indikator yang diamati tim sebelum pembiusan.

Namun, kondisi fisiknya menunjukkan dugaan kekurangan asupan makanan. Hal itu diperkirakan berkaitan dengan minimnya sumber pakan di sekitar lokasi penemuan yang merupakan kawasan bekas terbakar.

“Kalau kita lihat kondisi orangutan Ira itu sendiri, dari lingkar perutnya, mungkin dalam keadaan kelaparan. Kita lihat kondisi lapangan, sumber makanan di situ sangat minim, bahkan bisa dibilang tidak ada,” jelasnya.

Setelah pemeriksaan awal, Irawati ditempatkan di kandang sementara sebelum dibawa ke Pangkalan Bun untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. BKSDA akan berkoordinasi dengan tim terkait guna menentukan langkah selanjutnya berdasarkan evaluasi kesehatan dan kondisi habitatnya. may/fwa-red

-
-
-