
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Universitas Terbuka (UT) Palangka Raya membekali calon wisudawan, dengan pemahaman mengenai etika bermedia sosial, keamanan digital, serta penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijak, melalui seminar bertema “Cerdas Bermedia Sosial, Kuat Membangun Reputasi: Menjadi Lulusan Profesional, Beretika, dan Aman di Era Digital”, Jumat (9/10), di Hotel M Bahalap.
Direktur UT Palangka Raya, Hariyadi SP, MP, mengatakan, seminar merupakan bekal terakhir yang diberikan kepada mahasiswa, sebelum mereka menyelesaikan pendidikan dan kembali berkiprah di tengah masyarakat.
“Sehari sebelum pelaksanaan wisuda, salah satu hal yang kami lakukan adalah membekali alumni. Besok merupakan momen wisuda, setelah itu kami berpisah dengan mereka untuk melanjutkan kehidupan masing-masing. Karena itu, kami ingin memberikan bekal terakhir tentang bagaimana bijak bermedia sosial,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain memberikan manfaat dalam pengembangan usaha, pemberdayaan masyarakat, dan penyebaran informasi, media sosial juga memiliki risiko apabila digunakan tanpa mempertimbangkan etika dan dampaknya.
“Media sosial ini bisa menjadi seperti pisau bermata dua. Dari sisi positif, manfaatnya sangat baik untuk meningkatkan usaha dan pemberdayaan. Namun, dari sisi negatif juga banyak risikonya. Karena itu, alumni harus memahami bagaimana menggunakan media sosial sesuai dengan kaidah dan norma kehidupan di masyarakat,” katanya.
Dirinya menegaskan, para lulusan UT Palangka Raya memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik almamater setelah menyandang gelar sarjana. Identitas sebagai lulusan perguruan tinggi harus tercermin melalui perilaku, cara berkomunikasi, serta aktivitas mereka di ruang digital.
“Jangan sampai salah atau keliru dalam bermedia sosial sehingga nama baik keluarga rusak, termasuk nama besar Universitas Terbuka Palangka Raya. Kami berharap mereka menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, membawa nama baik sebagai seorang sarjana, dan menjaga nama baik almamater UT,” tuturnya.
Hariyadi menjelaskan, UT sebagai perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan jarak jauh, telah membekali mahasiswa dengan keterampilan digital sejak awal masa perkuliahan. Pembekalan tersebut diberikan melalui kegiatan orientasi mahasiswa serta pelatihan keterampilan belajar jarak jauh.
Selama menjalani proses pendidikan, mahasiswa juga terus diperkenalkan dengan pola pembelajaran digital yang terukur, mandiri, dan terstruktur. Dengan demikian, mereka diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkuliahan secara daring, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi berbagai tantangan di era digital.
“Sejak mereka masuk ke Universitas Terbuka, pembelajaran tentang bagaimana berdigitalisasi sudah kami sampaikan melalui Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ). Dari waktu ke waktu, selama kurang lebih 8 semester, kami terus membekali mereka dengan pembelajaran digital dan pembelajaran daring yang terukur, mandiri, serta terstruktur,” jelasnya.
Ia menuturkan, UT Palangka Raya sebelumnya sempat menghadapi kekhawatiran mengenai keterjangkauan internet di sejumlah wilayah. Namun, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di kalangan masyarakat pelosok telah berkembang, meskipun akses internet belum sepenuhnya merata.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap akses digital semakin besar. Karena itu, selain membekali mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, UT juga mendorong perhatian berbagai pihak terhadap perluasan infrastruktur internet.
Ia mengatakan, UT pernah melakukan pendataan mengenai sejumlah titik di wilayah pelosok Kalteng yang membutuhkan pembangunan Base Transceiver Station(BTS). Informasi tersebut selanjutnya disampaikan kepada pemerintah, sebagai bahan perhatian dalam upaya memperluas jangkauan telekomunikasi.
UT Palangka Raya juga berupaya menjembatani kebutuhan tersebut melalui komunikasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk kolaborasi bersama anggota DPD RI Agustin Teras Narang.
Sementara itu, Dosen Program Studi Manajemen UT Palangka Raya, Luthfi Faishal Fauzi SE, MSi, sebagai narasumber dalam seminar mengatakan, perkembangan AI menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, khususnya dalam menjaga orisinalitas karya serta integritas akademik.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan menghasilkan konten yang menarik atau populer di media sosial. Mahasiswa juga perlu memahami proses pembuatan konten yang berkualitas, dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak melanggar etika.
“Tantangan terbesar saat ini adalah hilangnya orisinalitas. Karena itu, bagaimana UT membekali mahasiswa bukan hanya tentang membuat media sosial menjadi menarik atau masuk FYP, tetapi juga bagaimana mereka bijak dalam membuat konten dan menggunakan AI secara etis,” ujar Luthfi.
Ia menilai, penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai berpotensi menghasilkan karya yang kurang berkualitas, dan tidak mencerminkan kompetensi seorang lulusan perguruan tinggi.
“Kalau menggunakan AI secara asal-asalan, hasilnya juga bisa kurang baik. Konten yang dihasilkan dapat terlihat tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dan tidak mencerminkan kualitas lulusan perguruan tinggi. Yang ingin kami tekankan adalah lulusan UT harus mampu membuat konten yang baik, bermutu, dan tetap beretika,” katanya.
Terkait penggunaan AI dalam pengerjaan tugas perkuliahan, Luthfi menjelaskan, UT telah memiliki ketentuan mengenai penggunaan teknologi tersebut. Pembekalan kepada mahasiswa dilakukan melalui kegiatan orientasi mahasiswa, dan pelatihan keterampilan belajar jarak jauh.
Tidak hanya mahasiswa, dosen dan tutor juga memperoleh pembekalan, agar dapat memahami perkembangan teknologi AI, serta menilai karya akademik secara lebih cermat.ldw/ded-red











