
*Pemko Bentuk Kelurahan Siaga
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Kota Palangka Raya memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan membentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh wilayah kota. Langkah ini diambil menyusul tingginya angka kasus TBC di Kota Palangka Raya yang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) sepanjang 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Palangka Raya mencatat sebanyak 1.101 kasus TBC sepanjang 2025, sedikit lebih tinggi dibanding Kabupaten Kotawaringin Barat yang mencatat 1.100 kasus.
Secara keseluruhan, Kalteng mencatat 6.037 kasus TBC dengan 346 kematian selama 2025. Sementara hingga 27 Maret 2026, telah ditemukan 1.029 kasus dengan 39 kematian.
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengatakan, pembentukan Kelurahan Siaga TBC merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat sekaligus mempercepat penanganan penyakit menular tersebut.
“Hari ini kami mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah terkait, kepala puskesmas, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga kader Kelurahan Siaga TBC. Tujuannya agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan program penanggulangan TBC,” ujarnya di Palangka Raya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Zaini, Kelurahan Siaga TBC memiliki tiga tugas utama. Pertama, melakukan pelacakan aktif untuk menemukan warga yang diduga terjangkit TBC. Ia menegaskan semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin baik karena pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
“Kalau tidak ditemukan, pasien tidak bisa diobati. Karena itu kader dan seluruh pihak yang terlibat harus aktif mencari warga yang menunjukkan gejala TBC agar segera diperiksa,” katanya.
Tugas kedua adalah melakukan pendampingan terhadap pasien selama menjalani pengobatan. Zaini menjelaskan TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan asalkan pasien rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Obat TBC tersedia dan gratis. Jika diminum secara rutin, dalam waktu sekitar dua minggu risiko penularan dapat berkurang secara signifikan. Jika pengobatan dilanjutkan hingga enam bulan sesuai prosedur, pasien berpeluang besar sembuh,” jelasnya.
Sementara tugas ketiga adalah memberikan edukasi kepada masyarakat guna menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC. Menurutnya, stigma sering kali membuat pasien enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka.
“Yang harus diubah adalah cara pandang masyarakat. Pasien TBC bisa sembuh. Karena itu jangan sampai ada stigma yang membuat mereka merasa dikucilkan,” tegasnya.
Zaini menambahkan tingginya jumlah kasus yang ditemukan di Palangka Raya tidak selalu berarti kondisi semakin buruk. Sebaliknya, hal itu menunjukkan upaya deteksi dini berjalan lebih baik.
“TBC harus ditemukan terlebih dahulu agar bisa diobati. Kalau ada 10 orang yang sakit dan semuanya ditemukan, maka semuanya bisa diobati dan sembuh. Namun jika tidak ditemukan, mereka akan terus menularkan penyakit kepada orang lain,” ujarnya.
Ia menyebut faktor lingkungan, kelembapan udara yang tinggi, serta kondisi wilayah tropis turut menjadi faktor yang dapat mendukung penyebaran penyakit tersebut. Karena itu pemerintah berupaya menekan angka kasus melalui strategi menemukan, mengobati, dan mengedukasi masyarakat.
Selain mencegah kematian akibat TBC, langkah tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap upaya penurunan angka stunting dan menciptakan generasi muda yang lebih sehat.
“Anak-anak juga bisa terkena TBC. Karena itu pencegahan dan pengobatan sejak dini sangat penting untuk menyiapkan generasi yang sehat di masa depan,” katanya.
Diketahui, kelurahan yang mejadi wilayah terbanyak kasus TBC di Palangka Raya, meliputi Kelurahan Pahandut, Palangka, Bukit Tunggal, dan Menteng.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, pembentukan Kelurahan Siaga TBC merupakan bagian dari strategi untuk menurunkan angka kesakitan dan jumlah kasus TBC di Kota Cantik.
Ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif membantu menemukan kasus di lingkungan sekitar dengan membawa anggota keluarga atau tetangga yang menunjukkan gejala TBC ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau ada keluarga, tetangga, atau kerabat yang diduga mengalami gejala TBC, segera bawa ke Puskesmas untuk diperiksa. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula diobati dan sembuh,” ujarnya.
Riduan menegaskan, TBC bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan disiplin menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan, peluang kesembuhan pasien sangat tinggi.
“Menurut Ikatan Dokter Indonesia, TBC bisa sembuh dengan syarat pasien rutin minum obat hingga tuntas. Karena itu kami berharap masyarakat tidak takut memeriksakan diri dan mendukung anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan,” pungkasnya. nws/fwa-red











