-
PEMKO PALANGKA RAYA

KABUT ASAP TINGGALKAN JEJAK-10.240 Warga Palangka Raya Terserang ISPA

88
×

KABUT ASAP TINGGALKAN JEJAK-10.240 Warga Palangka Raya Terserang ISPA

Sebarkan artikel ini
KABUT ASAP TINGGALKAN JEJAK-10.240 Warga Palangka Raya Terserang ISPA. FOTO ISTIMEWA AI
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kabut asap yang belum sepenuhnya beranjak dari Palangka Raya mulai meninggalkan jejak pada kesehatan warga. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat 10.240 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Juni hingga awal Oktober 2026.

Angka tersebut menunjukkan kasus ISPA bergerak naik seiring memburuknya kondisi udara. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, pada Juni tercatat 1.849 kasus, kemudian meningkat menjadi 2.293 kasus pada Juli dan melonjak hingga 3.104 kasus pada Agustus.

“September turun lagi, September 2.900 kasus, kemudian Oktober 190 kasus. Totalnya 10.240 kasus,” kata Riduan, Minggu (4/10/2026).

Jika dirata-ratakan, terdapat sekitar 1.900 kasus ISPA setiap bulan atau sekitar 90 kasus setiap hari. Menurut Riduan, penyakit tersebut tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu, tetapi ditemukan hampir pada seluruh kelompok umur.

Proporsi kasus pada kelompok usia yang terdampak berada di kisaran 30 hingga 35 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa paparan udara buruk menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat secara luas.

“Artinya tidak hanya kena pada umur tertentu, tapi hampir semua usia bisa kena ISPA,” ujarnya.

Mengantisipasi dampak kabut asap, Pemko Palangka Raya telah menyiapkan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Fasilitas tersebut mencakup puskesmas, puskesmas pembantu hingga fasilitas kesehatan lainnya.

Sejumlah Rumah Oksigen bahkan disiapkan untuk beroperasi selama 24 jam. Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan turut mendapat dukungan mahasiswa semester akhir melalui kerja sama dengan Universitas Eka Harap.

“Totalnya sampai kemarin ada 47 Rumah Oksigen yang tersebar di Kota Palangka Raya,” kata Riduan.

Jumlah fasilitas tersebut masih memungkinkan untuk ditambah apabila kondisi udara semakin memburuk. Dinas Kesehatan terus mengevaluasi kebutuhan berdasarkan perkembangan cuaca dan kualitas udara.

“Kalau memang cuaca bertambah jelek, insyaallah kita perluas,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan. Bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan.

Riduan juga mengingatkan warga agar tidak menunda pemeriksaan ketika mulai mengalami gangguan kesehatan, terutama sesak napas.

“Kalau sakit cepat-cepat berobat. Puskesmas pembantu,” katanya.

Menurutnya, sesak napas dapat berkaitan dengan penyakit penyerta seperti asma. Kondisi tersebut berpotensi semakin berat ketika kualitas udara memburuk.

Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinkes Palangka Raya juga terus menyalurkan masker kepada masyarakat dan berbagai kelompok yang membutuhkan.

Permintaan masker dari organisasi kemasyarakatan tetap dipenuhi dengan jumlah yang dapat mencapai 10 hingga 20 kotak dalam satu kali permintaan. Bantuan juga diarahkan kepada mahasiswa, sekolah, universitas hingga perkantoran.

Tak hanya masker, Dinkes mulai menyiapkan vitamin sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatan masyarakat di tengah paparan asap.

“Sebagian kita sertai vitamin. Insyaallah, ada beberapa waktu ke depan kita juga menyiapkan vitamin dengan masker,” ujar Riduan.

Untuk kebutuhan obat-obatan, Riduan memastikan stok masih aman. Pengadaan obat di Dinkes dirancang untuk memenuhi kebutuhan hingga 18 bulan sehingga tersedia cadangan sekitar enam bulan yang dapat digunakan ketika terjadi kondisi darurat.

Cadangan tersebut termasuk obat untuk penanganan ISPA, vitamin dan kebutuhan kesehatan lainnya.

“Insyaallah tercukupi. Kemudian didukung oleh BTT karhutla, insyaallah tercukup,” katanya.

Hingga saat ini, Dinkes Palangka Raya juga belum menerima laporan kematian yang berkaitan dengan kondisi kabut asap. Begitu pula belum terdapat laporan pasien yang harus menjalani rawat inap akibat dampak kabut asap.

Namun, pasien dengan penyakit penyerta seperti asma tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Ketika mengalami sesak napas, kondisi mereka berpotensi membutuhkan penanganan dan perawatan di fasilitas kesehatan.

“Belum terlapor ke kami. Tapi biasanya itu penyakit penyertanya asma, pasti dirawat,” ujarnya.

Dinkes kini masih memantau perkembangan kasus ISPA sekaligus kualitas udara. Jika kondisi kabut asap kembali memburuk dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat meningkat, penambahan Rumah Oksigen akan menjadi salah satu langkah yang disiapkan pemerintah. nws/fwa-red

 

-
-
-