PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Dugaan kejanggalan dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMP Negeri 1 Palangka Raya menjadi sorotan publik, setelah sebuah utas di media sosial mengungkap adanya titik koordinat domisili yang identik pada sejumlah calon peserta didik.
Dalam unggahan tersebut, pemilik akun meminta Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin melakukan pemantauan dan pemeriksaan pelaksanaan SPMB secara profesional dan akuntabel. Pasalnya, ditemukan beberapa peserta didik yang memiliki titik koordinat lokasi domisili sama persis, bahkan disebut ada 10 siswa yang berada di satu titik yang sama.
Unggahan itu juga menyoroti dugaan manipulasi data titik koordinat. Menurut pengunggah, lokasi alamat yang tercantum pada sistem diduga tidak sesuai dengan alamat sebenarnya berdasarkan Kartu Keluarga (KK), sehingga dikhawatirkan merugikan peserta didik lain yang mengikuti jalur domisili.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Aprae Vico Ranan menegaskan, kesamaan titik koordinat belum tentu menunjukkan adanya manipulasi data. Menurutnya, permasalahan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kendala teknis pada sistem pemetaan saat proses pengambilan titik lokasi.
“Ini biasanya kendala tarikan server. Karena pada saat penitikan lokasi data kemarin banyak kendala juga akibat akurasi dari maps yang sering melenceng,” ujar Vico saat dikonfirmasi Tabengan, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, jarak yang ditampilkan dalam aplikasi bukan menjadi dasar tunggal dalam menentukan hasil seleksi SPMB. Menurutnya, seluruh data pendaftar tetap melalui proses verifikasi manual oleh tim verifikator.
Vico memberikan contoh 2 siswa yang datanya disebutkan terindikasi manipulasi dalam unggahan tersebut, setelah di cek dilapangan melalui kartu keluarga ternyata kedua siswa tersebut berada di lokasi yang sangat berdekatan.
“Kami jelaskan bahwa jarak di aplikasi bukanlah keputusan akhir. Tim juga melakukan verifikasi manual. Panitia SPMB di tingkat sekolah dan dinas melakukan verifikasi faktual dengan mencocokkan alamat yang tertulis pada Kartu Keluarga,” jelasnya.
Ia pun memastikan, setiap berkas usulan calon peserta didik akan divalidasi kembali sebelum hasil akhir ditetapkan, sehingga peluang terjadinya manipulasi alamat dapat diminimalkan.
Saat dikonfirmasi apakah kesamaan titik koordinat pada aplikasi memang memungkinkan terjadi dan apakah seluruh berkas akan diverifikasi ulang, Vico membenarkannya.
“Betul, ada Tim Verifikator yang melakukan validasi ulang secara manual terhadap berkas yang diusulkan oleh calon siswa,” katanya.
Lebih lanjut, Vico mengakui peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Pihaknya berkomitmen melakukan pembenahan terhadap sistem aplikasi SPMB agar lebih akurat pada pelaksanaan penerimaan peserta didik berikutnya.
“Situasi ini menjadi pelajaran berharga dan evaluasi besar bagi kami. Kekurangan sistem yang kurang akurat dalam merespons kendala sinyal ini dipastikan menjadi fokus perbaikan utama ke depan. Kami akan meng-upgrade infrastruktur aplikasi agar sistem PPDB berikutnya jauh lebih kuat dan akurat dalam membaca koordinat domisili pendaftar, bahkan dalam kondisi jaringan yang minim sekalipun. Ini adalah komitmen kami untuk terus berbenah demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. nws/fwa-red











