keterangan foto:Tri Ketika menyerahkan bantuan kepada para korban kebakaran (Foto Tabengan/Maya Selviani)
SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Musibah kebakaran yang terjadi di Simpang Jalan Samekto Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang menghanguskan tiga unit rumah baru-baru ini menyisakan kehilangan yang tidak sedikit. Rumah, pakaian, perlengkapan rumah tangga hingga kebutuhan sehari-hari harus rela ditinggalkan. Namun, di tengah kepedihan itu, kepedulian justru datang dari banyak arah. Salah satunya dari salah seorang warga Kecamatan Baamang, Tri Agustina.
Sejak kabar musibah beredar, Tri mulai menggerakkan tangan-tangan para dermawan. Ada yang mengirimkan uang, ada yang datang membawa beras, telur, mi instan, pakaian, selimut, pakaian anak-anak hingga pampers. Bantuan diberikan sesuai kemampuan, dengan satu tujuan sederhana,meringankan beban mereka yang sedang kehilangan.
Hingga Kamis (13/8), donasi yang terkumpul melalui penggalangan tersebut menurutnya telah mencapai sekitar Rp12 juta. Jumlah itu masih terus bertambah karena masyarakat masih membuka ruang bagi siapa saja yang ingin berbagi.
“Alhamdulillah sampai hari ini sekitar Rp12 jutaan masuk di rekening. Ada yang menyumbang sembako, baju, telur, mi, beras, selimut, baju anak-anak dan diapers,” ungkapnya.
Bantuan tidak berhenti pada uang yang terkumpul. Donasi yang masuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan korban. Uang yang diberikan donatur dapat dibelanjakan menjadi barang kebutuhan, kemudian kembali disalurkan kepada mereka yang terdampak.
Bagi korban, bantuan itu bukan sekadar nominal. Ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi setelah sebagian besar barang milik mereka habis dilalap api.
Bahkan, untuk salah seorang korban, bantuan yang diterima hampir mencapai Rp4 juta. Bantuan tersebut berada di luar berbagai sembako dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari yang juga disalurkan.
Gerakan solidaritas ini bermula dari inisiatif pribadi Tri Agustina yang juga dikenal dengan panggilan Triberry.Tidak ada rencana besar, apalagi target tertentu. Berawal dari keinginan membantu sesama, ajakan kemudian disampaikan kepada teman-teman yang mungkin ingin ikut berbagi.
Respons yang datang ternyata jauh lebih besar dari perkiraan.
Ada kelompok arisan yang turut menyisihkan uang untuk korban. Ada pula masyarakat yang langsung meminta nomor rekening dan mengirimkan bantuan tanpa harus diminta terlebih dahulu.
“Memang ini dari saya. Saya sampai WhatsApp teman-teman, kalau mau berbagi silakan. Alhamdulillah semuanya baik, ada yang tanpa saya minta langsung meminta nomor rekening dan transfer,” tuturnya.
Kepedulian juga datang dari keluarga besar H Asmuni Asri, Toko Mas Mitra Baru, Altana yang turut memberikan bantuan untuk para korban.
Setiap bantuan, sekecil apa pun, menjadi bagian dari kekuatan bersama. Sebab, bagi mereka yang baru saja kehilangan tempat tinggal dan barang-barang berharga, satu paket sembako, sehelai selimut atau sejumlah uang dapat menjadi sangat berarti.
Penggalangan bantuan pun belum dihentikan. Selama masih ada korban yang membutuhkan, bantuan akan terus dikumpulkan dan disalurkan secara bertahap.
Dirinya menyadari kebutuhan korban tidak selesai dalam satu atau dua hari. Setelah masa tanggap awal berlalu, masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi untuk kembali menjalani kehidupan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat yang memiliki rezeki lebih untuk ikut membantu. Tidak harus dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kepedulian.
“Donasi kita berlanjut sampai memang ada rezeki orang. Nanti bisa dibagikan lagi kepada korban. Terima kasih kepada donatur yang luar biasa,” ujarnya.
Dari musibah yang menyisakan luka, muncul cerita lain tentang manusia yang memilih untuk tidak tinggal diam. Ada yang kehilangan rumah, tetapi di saat bersamaan menemukan banyak tangan yang datang menguatkan.
Bantuan itu mungkin tidak mampu mengembalikan semua yang telah terbakar. Namun, kepedulian yang diberikan menjadi pesan bahwa para korban tidak menghadapi musibah seorang diri.
“Semoga Allah membalas dengan berlimpah,” ucapnya. (May/jsi-red)











