Oleh drg. Cahyono Yudianto, Sp.B.M.M. Staf Medis RSUD Mas Amsyar Kasongan
| Mahasiswa S3 Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
TABENGAN.CO.ID-Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan persoalan asing bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Ketika musim kemarau datang dan titik api meningkat, kabut asap dapat menyelimuti permukiman selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Selama ini perhatian terhadap dampak kabut asap terutama tertuju pada gangguan pernapasan, mata, serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Namun ada bagian tubuh yang juga terus-menerus berhadapan dengan udara tercemar, yaitu rongga mulut.
Asap kebakaran hutan merupakan campuran kompleks berbagai gas dan partikel. Salah satu komponen yang paling mendapat perhatian adalah particulate matter berukuran <=2,5 mikrometer (PM2.5). Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Asap kebakaran juga dapat mengandung karbon monoksida serta berbagai senyawa organik dan polutan lainnya.
Paparan menjadi semakin penting ketika konsentrasi polutan meningkat dan berlangsung dalam waktu lama. Apa Hubungannya dengan Gigi dan Mulut? Rongga mulut merupakan salah satu pintu masuk paparan lingkungan.
Ketika udara dipenuhi asap, seseorang juga dapat lebih sering bernapas melalui mulut, terutama apabila hidung terasa tidak nyaman. Kondisi mulut kering dapat lebih mudah dirasakan, terlebih bila asupan cairan tidak mencukupi. Air liur atau saliva mempunyai fungsi penting. Saliva membantu membersihkan sisa makanan, menjaga keseimbangan keasaman rongga mulut, membantu proses remineralisasi gigi, dan mempertahankan lingkungan biologis mulut.
Karena itu, mulut kering yang menetap bukan sekadar rasa tidak nyaman. Bila fungsi protektif saliva berkurang, kondisi rongga mulut dapat menjadi lebih mendukung terjadinya masalah gigi dan mukosa. Perhatian ilmiah terhadap hubungan polusi udara dan kesehatan mulut semakin berkembang. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara paparan polusi udara dan penyakit oral, terutama penyakit periodontal atau jaringan penyangga gigi.
Namun mekanisme dan bukti kausal langsung pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut. Karena itu, tidak tepat menyatakan bahwa menghirup kabut asap secara otomatis menyebabkan gigi berlubang atau periodontitis. Paparan polusi lebih tepat dipandang sebagai faktor lingkungan yang berpotensi ikut memengaruhi kesehatan rongga mulut.
Salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah stres oksidatif dan inflamasi. Paparan particulate matter dapat berkaitan dengan peningkatan stres oksidatif. Bila produksi molekul reaktif berlebihan dan pertahanan antioksidan tubuh tidak mampu mengimbanginya, fungsi sel dan respons inflamasi dapat terganggu. Dalam rongga mulut, hal ini relevan karena jaringan gusi dan mukosa terus berinteraksi dengan mikroorganisme, makanan, trauma mekanis, dan lingkungan luar.
Bagaimana dengan Pasien Setelah Cabut Gigi atau Operasi? Ada persoalan lain dari sudut pandang Bedah Mulut dan Maksilofasial, yaitu pasien yang sedang mengalami penyembuhan luka setelah pencabutan gigi, odontektomi gigi bungsu, atau operasi rongga mulut lainnya. Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang membutuhkan suplai darah dan oksigen yang baik, respons inflamasi yang terkontrol, proliferasi sel, pembentukan jaringan baru, dan remodeling.
Stres oksidatif yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan proses tersebut. Namun bukti klinis langsung yang menunjukkan kabut asap karhutla menyebabkan dry socket, infeksi, atau kegagalan penyembuhan luka operasi gigi pada manusia masih terbatas. Hubungan tersebut karena itu tidak boleh disampaikan sebagai kepastian. Meskipun demikian, prinsip kehati-hatian tetap masuk akal. Pasien yang baru menjalani operasi sebaiknya mengurangi paparan asap, menjaga hidrasi dan kebersihan rongga mulut, mengikuti instruksi dokter, serta tidak merokok.
Bila setelah pencabutan atau operasi muncul nyeri yang semakin berat, pembengkakan progresif, demam, keluar nanah, perdarahan yang tidak berhenti, atau kesulitan membuka mulut dan menelan, pasien harus segera diperiksa. Apa yang Dapat Dilakukan Masyarakat?
Saat kualitas udara memburuk, perlindungan kesehatan sebaiknya tidak berhenti pada paru-paru. Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi tinggi dan ikuti informasi kualitas udara serta imbauan pemerintah. Bila harus berada di luar saat konsentrasi partikel tinggi, gunakan masker dengan filtrasi partikel yang baik seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan benar.
Untuk kesehatan mulut, tetap minum air yang cukup, sikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida, bersihkan sela gigi, dan hindari rokok. Berkumur dengan air dapat membantu memberikan rasa nyaman dan membersihkan rongga mulut, tetapi tidak dapat menetralisir PM2.5 yang telah terhirup dan bukan pengganti menyikat gigi. Masyarakat yang sedang mengalami sakit gigi, gusi bengkak atau berdarah, sariawan yang tidak sembuh, mulut kering berkepanjangan, maupun sedang dalam masa pemulihan setelah operasi gigi perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi rongga mulutnya selama periode kabut asap.
Mulut Adalah Bagian dari Kesehatan Tubuh Karhutla pada akhirnya bukan hanya masalah lingkungan. Ia adalah persoalan kesehatan masyarakat. Pengetahuan ilmiah mengenai dampaknya terhadap paru dan sistem kardiovaskular sudah jauh berkembang, sementara dampaknya terhadap kesehatan gigi dan mulut baru mulai mendapat perhatian lebih besar.
Bagi Kalimantan Tengah, isu ini memiliki relevansi khusus. Kita hidup di wilayah yang secara periodik menghadapi risiko karhutla, sehingga penelitian mengenai paparan PM2.5 dan kesehatan rongga mulut, penyakit periodontal, serta penyembuhan luka setelah tindakan kedokteran gigi layak dikembangkan lebih lanjut.
Pesan untuk masyarakat sederhana: ketika kabut asap datang, jangan hanya menjaga paru-paru. Jaga pula kesehatan gigi dan mulut. Kurangi paparan asap, cukup minum, pertahankan kebersihan rongga mulut, hindari rokok, dan periksakan diri apabila muncul keluhan. Udara yang kita hirup berinteraksi dengan tubuh sejak dari pintu masuknya – dan rongga mulut adalah salah satunya.











