SAMPIT/TABENGAN.CO.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan, sebanyak empat bayi meninggal dunia akibat diare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Seluruh kasus terjadi pada awal tahun, sebelum memasuki musim kemarau, dan diduga berkaitan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan, diare masih menjadi penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat berkembang sangat cepat dan berujung fatal apabila terlambat ditangani.
“Kalau diare terlambat ditangani, kekurangan cairan atau dehidrasi bisa menyebabkan kematian,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Semula Dinkes mencatat satu kasus kematian akibat diare. Namun, berdasarkan pembaruan data, jumlah korban meninggal mencapai empat bayi. Kasus tersebut tersebar di Kecamatan Teluk Sampit sebanyak satu orang, Pulau Hanaut satu orang, dan Mentaya Hulu dua orang.
Seluruh korban masih berusia sangat muda, yakni 7 hari, 3 bulan, 6 bulan, dan 7 bulan. Kejadian berlangsung pada awal tahun sebelum musim kemarau.
“Kemungkinan penyebabnya adalah makanan yang terkontaminasi bakteri,” jelas Nugroho.
Ia menuturkan, bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi akibat diare karena lebih cepat mengalami dehidrasi. Saat cairan tubuh sudah banyak hilang, kondisi pasien sering kali sulit diselamatkan meski telah mendapatkan cairan infus.
Selain faktor kesehatan, Dinkes juga menyoroti masih adanya kebiasaan masyarakat yang menunda membawa anak berobat ke fasilitas kesehatan karena lebih dahulu mempercayai pengobatan tradisional atau mitos yang berkembang di lingkungan sekitar.
Menurut Nugroho, sebagian keluarga masih memilih menunggu saran orang yang dituakan atau melakukan pengobatan kampung terlebih dahulu. Bahkan, masih ada anggapan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan mulai berjalan sehingga tidak perlu segera dibawa berobat.
Dinkes mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh diare, terutama pada bayi dan balita. Apabila anak mengalami buang air besar berulang, muntah, tidak mau minum, atau menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan, orang tua diminta segera membawa anak ke Puskesmas atau rumah sakit.
“Penanganan sejak dini menjadi kunci untuk mencegah dehidrasi berat dan menekan risiko kematian akibat diare,” tegasnya. may/jsi-red











