-
KESEHATAN

Dokter Spesialis Paru Ingatkan Bahaya Asap Karhutla

117
×

Dokter Spesialis Paru Ingatkan Bahaya Asap Karhutla

Sebarkan artikel ini
dr Zata Dini SpP
-

TABENGAN.CO.ID-Bahaya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih kerap dianggap sepele karena hanya dinilai mengganggu jarak pandang. Padahal, asap karhutla mengandung partikel beracun yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan mengancam kesehatan pernapasan.

Guna mengurangi risiko kesehatan, dr Zata Dini SpP mengimbau masyarakat mewaspadai partikel mikroskopis dalam asap karhutla. Salah satu yang paling berbahaya adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5) karena ukurannya sangat kecil.

“Asap karhutla bukan hanya debu biasa. Di dalamnya terdapat partikel dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, serta mengganggu fungsi paru,” jelas Zata, Senin, 31 Agustus 2026.

Ancaman asap karhutla tidak hanya berasal dari partikel halus, tetapi juga gas beracun yang dapat mengganggu fungsi organ tubuh. Karbon monoksida dalam asap dapat menurunkan kemampuan darah mengangkut oksigen secara drastis.

Selain karbon monoksida, senyawa berbahaya seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan ozon juga dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Paparan zat-zat tersebut dapat menyebabkan batuk, peningkatan produksi lendir, suara serak, mengi, hingga sesak napas.

Gejala akibat paparan asap karhutla biasanya muncul tak lama setelah seseorang menghirup udara tercemar. Keluhan yang umum terjadi antara lain mata perih, hidung tersumbat, tenggorokan kering, pusing, mual, hingga dada terasa berat.

Dampak asap karhutla lebih berisiko bagi kelompok rentan, terutama penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Paparan berulang dapat memicu kekambuhan dan memperburuk kondisi paru-paru pasien.

Risiko kesehatan dapat menjadi masalah jangka panjang jika masyarakat terus terpapar asap tanpa perlindungan yang memadai. Peradangan kronis pada saluran pernapasan dapat mengganggu fungsi paru, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan.

“Orang yang sebelumnya sehat bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap polusi udara. Risiko tetap ada, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung berulang,” tegas Zata.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta menghentikan aktivitas fisik berat di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Aktivitas berat meningkatkan volume dan frekuensi pernapasan sehingga lebih banyak zat berbahaya yang terhirup.

Perlindungan di dalam rumah juga perlu dioptimalkan dengan menutup rapat akses udara dari luar dan menggunakan penyaring udara. Air purifier dengan filter HEPA dapat membantu mengurangi kadar partikel berbahaya yang masuk ke dalam rumah.

Jika harus bepergian ke luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan respirator seperti N95, KN95, atau KF94 dengan rapat. Namun, masker tersebut tidak dapat menyaring gas beracun seperti karbon monoksida secara sempurna.

“Jika muncul sesak napas berat, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, penurunan kesadaran, bibir kebiruan, atau keluhan yang semakin memburuk, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan medis,” pesan Zata. rls/red

  1. Meningkatkan Risiko ISPA
    Paparan asap kebakaran hutan dan lahan dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru.

 

  1. Menyebabkan Iritasi Mata dan Saluran Pernapasan
    Kabut asap dapat menyebabkan mata perih, berair, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, dan sesak napas juga dapat muncul pada orang yang terpapar asap.

 

  1. Memperburuk Asma dan Penyakit Paru Kronis
    Paparan asap dapat memperburuk kondisi masyarakat yang sebelumnya telah memiliki asma atau penyakit paru kronis. Partikel halus dalam asap dapat memperberat gejala dan meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan pada kelompok yang rentan.

 

  1. Menurunkan Fungsi Paru
    Paparan partikel dalam konsentrasi tinggi dapat memengaruhi fungsi paru. WHO menjelaskan bahwa paparan partikulat dalam jangka pendek dapat menyebabkan penurunan fungsi paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

 

  1. Berdampak pada Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
    Dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat masuk ke aliran darah. Paparan partikulat berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

 

  1. Memicu Sakit Kepala dan Keluhan Kesehatan Lainnya
    World Health Organization (WHO) mencatat beberapa keluhan kesehatan utama sebagai gejala umum akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Paparan asap kebakaran dapat disertai berbagai keluhan kesehatan, seperti sakit kepala, batuk, dan sesak napas.

 

  1. Berisiko terhadap Kesehatan Ibu Hamil dan Anak
    Ibu hamil dan anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap pencemaran udara. WHO menyebutkan bahwa paparan polusi udara selama kehamilan berkaitan dengan sejumlah risiko terhadap kehamilan, sementara paru-paru anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

 

  1. Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan Akibat Paparan Berulang
    Paparan asap yang terjadi berulang atau dalam jangka panjang perlu menjadi perhatian karena partikulat dapat memberikan dampak kesehatan yang lebih luas. WHO mengaitkan paparan jangka panjang partikulat dengan penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronis, stroke, dan sejumlah penyakit tidak menular lainnya.

Kabut asap bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi paparan asap dan memperhatikan kondisi kualitas udara. Jika mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar kabut asap, segera lakukan pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

-
-
-