-
Spirit Kalteng

Hujan Meluas di Sejumlah Wilayah, Ancaman Karhutla Kalteng Masih Mengintai

225
×

Hujan Meluas di Sejumlah Wilayah, Ancaman Karhutla Kalteng Masih Mengintai

Sebarkan artikel ini
Hujan Meluas Disejumlah Wilayah, Ancaman Karhutla Kalteng Masih Mengintai
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi hujan cukup luas terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 7-9 September 2026. Meski demikian, masyarakat diminta tetap mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada kawasan gambut.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Ika Priti, menyampaikan bahwa potensi hujan tersebut diharapkan dapat membantu mendinginkan kondisi permukaan tanah yang sebelumnya mengalami kekeringan.

“Potensi hujan cukup luas pada 7 hingga 9 September, tetapi ancaman karhutla dan penurunan kualitas udara akibat asap masih tetap perlu diantisipasi,” ujarnya Ika saat dikonfirmasi Tabengan, Senin (7/9/2026).

BMKG memprakirakan sejumlah wilayah di Kalteng berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meliputi, Kotawaringin Barat, Sukamara bagian utara, Lamandau, Kotawaringin Timur, Seruyan bagian utara, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan bagian utara, Kapuas bagian utara, Pulang Pisau bagian utara serta Kota Palangka Raya.

Sementara itu, suhu udara di sejumlah wilayah Kalteng diprakirakan berada pada kisaran 23°C-33°C dengan kelembapan udara relatif tinggi. Bahkan, di beberapa wilayah kelembapan dapat mencapai 99-100%.

“Khusus Kota Palangka Raya, suhu udara diprakirakan berkisar 24°C-32°C dengan kecepatan angin sekitar 7 km/jam,” katanya.

Ika menjelaskan, meski hujan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman karhutla.

Berdasarkan parameter cuaca, kemudahan terbakar pada lapisan atas tanah sekitar 1-2 sentimeter pada sebagian besar wilayah Kalteng diprediksi berada dalam kondisi aman.

Namun, kondisi berbeda masih ditemukan pada lapisan tanah yang lebih dalam, khususnya kawasan gambut. Lapisan menengah sekitar 5-10 sentimeter di bawah permukaan tanah hingga lapisan lebih dari 10 sentimeter masih diprediksi berada dalam kondisi sangat mudah terbakar.

“Kondisi ini menjadi perhatian karena lahan gambut yang sebelumnya terbakar dapat menyimpan bara di dalam tanah. Hujan yang turun di permukaan belum tentu langsung mampu membasahi dan memadamkan titik panas yang berada di lapisan lebih dalam,” jelasnya.

Karena itu, ia menghimbau masyarakat agar tidak lengah meskipun hujan mulai turun. Terlebih, kawasan lahan gambut yang sudah terbakar maupun yang berada di sekitar lokasi kebakaran tetap berpotensi kembali terbakar apabila kondisi cuaca kembali mengering.

Selain ancaman karhutla, BMKG juga mengingatkan potensi penurunan kualitas udara akibat peningkatan polusi yang berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan.

“Kami menghimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan agar menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan udara yang tercemar asap,” pungkasnya. dte/fwa-red

 

-
-
-