PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID- Hingga Kamis (10/9/2026) sore, kebakaran hutan di kawasan Hutan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) terus meluas dan masih menyala, personel pun masih berjibaku untuk melakukan pemadaman. Sebelumnya pada Rabu (9/9/2026) dilaporkan Karhutla di TNTP mencapai 1.200 Ha, namun hingga Kamis (10/9/2026) karhulta di wilayah tersebut mencapai 3.105,47 Ha.
Kepala Balai TNTP, Yohan Hendratmoko, menyampaikan saat ini pihak masih terfokus penanganan di Teluk Pengarangan/Kumai, Teluk Pulai, Sungai Cabang, wilayah ini masuk administrasi Kabupaten Kotawaringin Barat, sementara kawasan TNTP yang masuk ke wilayah Kabupaten Seruyan yakni Sungai Peru.
“Kami masih menghalau api agar tidak menyebar lebih luas lagi, kebakaran di TNTP saat masuk di dua wilayah baik Kobar maupun Seruyan, untuk kebakaran yang masih menyala belum bisa kami hitung luasan yang terbakar, fokus masih dalam penanganan,” ujar Yohan Hendratmoko.
Yohan menambahkan personil yang tengah melakukan pemadaman saat ini Sekitar 70 orang yang terdiri dari unsurnya pegawai Balai TNTP, Masy Peduli Api/MPA, Pokdarwis, Mitra OFI, OF-UK, Mitra FNPF, PT Kumai Sentosa.
Sementara itu hingga tanggal 9 September 2026, Balai TNTP telah mencatat Kawasan yang terdampak dari kejadian kebakaran hutan merupakan habitat penting populasi Orangutan (Pongo pygmaeus), satwa liar dilindungi dan spesies kunci Taman Nasional Tanjung Puting.
Di mana hingga pada tanggal 9 September 2026, luas lahan yang terbakar seluas 3.105,47 Ha dengan rincian kawasan yang masuk Resor Teluk Pulai SPTN Wilayah III Tanjung Harapan seluas ± 1.062,24 Ha, teridentifikasi tanggal 07 Agustus 2026.
Untuk resor Sungai Cabang SPTN Wilayah III Tanjung Harapan seluas ± 1.113,70 Ha dan teridentifikasi tanggal 30 Agustus 2026; dan c) Resor Sungai Perlu SPTN Wilayah II Kuala Pembuang seluas ± 929,83 Ha, teridentifikasi tanggal 26 Agustus 2026.
” Hingga saat ini kebakaran hutan belum dapat dipadamkan, mengingat keterbatasan aksesibilitas, kawasan yang terbakar merupakan tanah gambut dengan kedalaman
0,5 – 4 meter dan keterbatasan personel serta sarana prasarana, kami mohon bantuan water bombing gunamembantu proses pemadaman dan mencegah kebakaran hutan yang lebih luas,” pungkasnya. uli /jsi-red











