-
Spirit Kalteng

Siswa Mulai Bosan Belajar Daring, Rindu Sekolah Tatap Muka Akibat Karhutla

254
×

Siswa Mulai Bosan Belajar Daring, Rindu Sekolah Tatap Muka Akibat Karhutla

Sebarkan artikel ini
Foto Penerapan PJJ  salah satu SMAN sebagai dampak kabut asap akibat karhutla di Kota Palangka Raya. foto istimewa
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya mulai membuat sejumlah siswa merasa bosan. Aktivitas belajar yang terus dilakukan secara daring dinilai membuat siswa lebih mudah kehilangan fokus dan kesulitan memahami sejumlah materi pelajaran.

Salah seorang siswa kelas XII SMAN 2 Palangka Raya, Satrio Adi Mahardika, mengaku mulai jenuh mengikuti pembelajaran secara daring. Hampir setiap hari, dirinya harus mengikuti kegiatan belajar melalui aplikasi konferensi video seperti Zoom.

“Mulai bosan belajar daring, hari-hari Zoom. Beberapa materi kurang dipahami dan mudah ngantuk atau enggak fokus kalau belajar,” katanya kepada Tabengan, Jumat (25/9/2026).

Menurut Satrio, pembelajaran secara daring tidak sepenuhnya memberikan pengalaman belajar yang sama seperti pembelajaran tatap muka. Selain kesulitan memahami beberapa materi, suasana belajar dari rumah juga membuat dirinya lebih mudah kehilangan konsentrasi.

Ia mengaku lebih menyukai pembelajaran secara langsung di sekolah. Selain dapat berinteraksi dengan guru, pembelajaran tatap muka juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman.

“Lebih enak belajar langsung, bisa ketemu teman dan main juga,” tambahnya.

Satrio berharap kondisi karhutla dan kabut asap yang terjadi di wilayah Palangka Raya dan sekitarnya dapat segera berakhir sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat kembali dilaksanakan secara tatap muka.

Keluhan serupa juga disampaikan orang tua siswa Sekolah Dasar. Marta, orang tua Stevani, siswi kelas IV SDN 7 Bukit Tunggal, mengatakan anaknya mulai merasa bosan karena harus mengikuti pembelajaran jarak jauh melalui Zoom.
“Ya kayaknya bosan. Namanya anak-anak pengen ketemu teman-temannya. Maunya segera sekolah tatap muka,” ujarnya.

Menurut Marta, bagi anak-anak, sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk mengikuti pembelajaran, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dan bersosialisasi bersama teman sebaya. Karena itu, penerapan PJJ dalam waktu yang cukup lama membuat anak mulai merindukan suasana sekolah.
Ia berharap karhutla yang menyebabkan munculnya kabut asap dapat segera ditangani sehingga kondisi udara kembali aman dan kegiatan pendidikan dapat berjalan normal.

“Semoga karhutla segera berakhir agar anak-anak bisa kembali belajar normal seperti biasa,” harapnya.

Penerapan PJJ sendiri menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk menjaga aktivitas pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi kabut asap. Namun, bagi siswa dan orang tua, pembelajaran secara daring dalam waktu berkepanjangan juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga konsentrasi, memahami materi, serta memenuhi kebutuhan interaksi sosial siswa. rmp/rca-red

 

-
-
-