- 45 Pelaku Karhutla
- 169 Rumah Oksigen Siaga yang Tersebar di Sejumlah Wilayah
- Unit Mobil Oksigen Tercatat Nol Unit
- 000 Masker serta Multivitamin Sudah Dibagikan
- Bantuan Pangan Sebanyak 450.000 Kepala Keluarga
- Target 10 Juta Liter Bersih Dibagikan
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah masih menjadi perhatian serius hingga akhir September 2026. Berdasarkan data akumulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng periode 1 Januari hingga 28 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 4.512 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 14.989,41 hektare.
Selain itu, pemantauan titik panas menunjukkan terdapat 189.824 hotspot di wilayah Kalteng selama periode tersebut. Data BPBD Kalteng juga mencatat, berdasarkan pemantauan satelit, terdapat 7.634 hektare area terbakar berdasarkan data Sentinel-8 dan 13.744 orang yang tergabung dalam penanggulangan karhutla.
Dari sisi penanganan, sebanyak 45 penegakan hukum telah dilakukan terkait karhutla. Pemerintah juga mengerahkan enam unit helikopter serta satu unit pesawat patroli OMC untuk mendukung upaya penanggulangan dan pemantauan kondisi karhutla.
Kepala BP-BPK Kalteng Ahmad Toyib menegaskan, tingginya aktivitas titik panas dan luas wilayah terdampak menjadi perhatian bersama sehingga pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Karhutla harus kita tangani bersama. Pencegahan menjadi hal yang sangat penting, terutama dengan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi di seluruh wilayah,” sebutnya, di Palangka Raya, Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan rincian kabupaten/kota, Kotawaringin Timur tercatat sebagai wilayah dengan luas area terbakar terbesar, yakni 2.861 hektare, disusul Kotawaringin Barat 2.412 hektare, Pulang Pisau 2.074 hektare, Seruyan 1.601 hektare, dan Kapuas 1.348 hektare.
Sementara dari jumlah kejadian karhutla, Kotawaringin Timur juga mencatat angka tertinggi dengan 875 kejadian, diikuti Palangka Raya 775 kejadian, Seruyan 494 kejadian, Kapuas 397 kejadian, dan Kotawaringin Barat 342 kejadian.
Untuk titik panas, Pulang Pisau tercatat memiliki 34.855 hotspot, tertinggi dalam data kabupaten/kota. Selanjutnya Kotawaringin Timur sebanyak 33.212 hotspot, Kapuas 26.871 hotspot, Palangka Raya 22.309 hotspot, serta Seruyan 16.987 hotspot.
Adapun wilayah lainnya yakni Kotawaringin Barat mencatat 11.900 hotspot, Sukamara 7.582 hotspot, Lamandau 6.347 hotspot, Barito Selatan 6.229 hotspot, Gunung Mas 5.503 hotspot, Barito Timur 1.049 hotspot, Murung Raya 981 hotspot, Barito Utara 919 hotspot, dan Katingan 1.508 hotspot.
Penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga membutuhkan upaya pencegahan sejak dini.
“Kami terus mendorong seluruh unsur yang terlibat untuk meningkatkan pencegahan, pemantauan titik panas, serta mempercepat penanganan apabila ditemukan adanya kebakaran,” ujarnya.
Besarnya aktivitas karhutla sepanjang 2026 juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam data BPBD Kalteng tercatat 91.342 kasus ISPA dan 22.533 kasus diare.
Di sektor pendidikan, terdapat 223 sekolah PAUD yang tercatat dalam penanganan dampak karhutla, sementara tidak terdapat sekolah tatap muka yang tercatat dalam data tersebut.
Untuk mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat, Pemprov Kalteng menyiapkan 169 rumah oksigen yang tersebar di sejumlah wilayah, sementara untuk unit mobil oksigen tercatat nol unit.
Selain itu, pemerintah juga membagikan sekitar 750.000 masker serta multivitamin kepada masyarakat yang terdampak karhutla.
“Untuk ekonomi, pembagian bantuan pangan sebanyak 450.000 kepala keluarga, kemudian juga pemberdayaan UMKM,” ujarnya.
Pemprov Kalteng juga melakukan penyaluran air bersih untuk membantu masyarakat yang mengalami kekeringan. Hingga saat ini, jutaan liter air bersih telah disalurkan dari total target 10 juta liter yang dipersiapkan pemerintah. ldw/ded-red











