PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kekecewaan masyarakat terhadap pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya semakin memuncak. Aksi demonstrasi yang digelar Gerakan Pemuda Gelap dan Gerakan Pemuda Tolak Pemadaman di Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Rabu (7/10/2026), berujung kericuhan setelah massa terlibat aksi saling dorong dengan petugas keamanan dan aparat kepolisian.
Kericuhan terjadi setelah massa meminta General Manager (GM) PLN menemui mereka secara langsung untuk memberikan penjelasan terkait kondisi kelistrikan serta pemadaman bergilir yang hingga kini masih terjadi.
Namun, hingga batas waktu yang diberikan, pimpinan PLN maupun perwakilan manajemen yang diharapkan menemui massa tidak kunjung datang. Kondisi tersebut kemudian memicu kekecewaan peserta aksi.
Sejumlah massa selanjutnya berupaya menerobos masuk ke area Kantor PLN UP3 Palangka Raya. Bahkan, beberapa peserta aksi terlihat mencoba memanjat tembok untuk masuk ke dalam kompleks perkantoran.
Upaya tersebut langsung dihadang petugas keamanan. Aksi saling dorong pun terjadi antara massa dan sekuriti yang berusaha mempertahankan akses masuk kantor.
Situasi semakin memanas hingga sebagian massa berhasil masuk ke halaman kantor PLN. Di lokasi, mereka kembali berhadapan dengan barisan aparat kepolisian yang telah disiagakan untuk mengamankan jalannya aksi.
Dorong-mendorong kembali terjadi. Aparat berupaya menahan massa agar tidak semakin masuk ke area kantor serta tidak mengganggu aktivitas pelayanan di lingkungan PLN.
Sebelum kericuhan terjadi, massa juga sempat melemparkan telur busuk ke arah halaman kantor PLN. Telur tersebut dibawa sebagai simbol kekecewaan terhadap komitmen PLN yang dinilai belum terealisasi sesuai janji sebelumnya.
Salah satu koordinator lapangan, Fiteli, mengatakan kedatangan massa bertujuan menuntut realisasi komitmen dan janji General Manager PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah terkait kestabilan sistem kelistrikan.
Menurutnya, dalam pertemuan aksi sebelumnya, PLN menyampaikan bahwa kondisi kelistrikan di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah akan kembali stabil pada akhir Agustus hingga 5 September.
Namun, hingga Rabu (7/10/2026), pemadaman bergilir masih terjadi di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya.
“Kami datang untuk menuntut komitmen dan janji General Manager PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sebelumnya disampaikan bahwa pada akhir Agustus sampai 5 September kondisi kelistrikan di Palangka Raya khususnya dan Kalimantan Tengah umumnya akan kembali stabil,” kata Fiteli saat diwawancarai wartawan.
Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterima massa, hingga sekitar pukul 11.00 WIB masih terdapat pemadaman di sejumlah wilayah Palangka Raya dan Kalimantan Tengah.
Fiteli menegaskan, massa tidak hanya menuntut pengurangan durasi pemadaman, tetapi menginginkan kondisi kelistrikan benar-benar kembali normal.
“Memang kami melihat ada pengurangan durasi pemadaman. Kalau sebelumnya masyarakat bisa mengalami pemadaman sekitar tujuh sampai delapan jam, sekarang di beberapa wilayah menjadi sekitar tiga sampai empat jam. Tetapi bagi kami itu belum cukup,” tegasnya.
Menurutnya, aksi tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan kelompok yang melakukan demonstrasi. Persoalan pemadaman listrik dinilai telah berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat.
Ia juga mengaitkan persoalan pemadaman listrik dengan kondisi masyarakat Palangka Raya yang saat ini masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Komitmen GM UID Kalselteng yang sebelumnya disampaikan benar-benar direalisasikan. Masyarakat Palangka Raya saat ini sudah menghadapi persoalan kabut asap akibat karhutla. Jangan sampai penderitaan masyarakat ditambah lagi dengan persoalan pemadaman listrik yang berkepanjangan,” tambahnya.
Terkait kericuhan yang terjadi, Ia membenarkan saat massa berupaya masuk ke dalam kantor bukan dengan tujuan melakukan pengrusakan, melainkan menyampaikan simbol protes secara langsung kepada pimpinan PLN.
Ia menjelaskan, telur busuk yang dibawa massa merupakan simbol kekecewaan terhadap janji dan komitmen PLN yang dinilai belum sepenuhnya diwujudkan.
“Kami membawa telur busuk sebagai bentuk ekspresi kekecewaan. Telur busuk tersebut kami simbolkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pernyataan atau janji pihak PLN yang menurut kami belum terealisasi sebagaimana yang disampaikan kepada masyarakat,” pungkasnya. dte/fwa-red











