-
Hukrim

PJJ Diduga Picu Balap Liar, Pelajar SMP dan SMA Mendominasi

55
×

PJJ Diduga Picu Balap Liar, Pelajar SMP dan SMA Mendominasi

Sebarkan artikel ini
Kasat Lantas Polresta Palangka Raya Hermanto. FOTO ISTIMEWA
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Aksi balap liar di sejumlah ruas jalan Kota Palangka Raya kian marak. Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga menjadi salah satu faktor meningkatnya aktivitas tersebut, lantaran sebagian pelajar memiliki lebih banyak waktu luang pada malam hari.

Adapun sejumlah lokasi yang kerap dijadikan arena balap liar di Kota Palangka Raya, di antaranya kawasan Bundaran Kecil, Jalan RTA Milono, Jalan Seth Adji, dan kawasan Jalan Murjani.

Kasat Lantas Polresta Palangka Raya Hermanto mengatakan, pihaknya sebelumnya telah memanggil para joki balap liar hingga mekanik bengkel yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut. Langkah itu dilakukan sebagai upaya menekan maraknya balapan di jalan umum.

Menurutnya, sebelum pemberlakuan PJJ, aktivitas balap liar cenderung memiliki batasan karena pelajar harus masuk sekolah pada pagi hari. Namun, ketika pembelajaran dilakukan dari rumah, sebagian pelajar justru memanfaatkan waktu malam hingga menjelang subuh untuk melakukan balapan.

“Karena mereka merasa tidak masuk sekolah atau PJJ, malamnya digunakan untuk itu. Apalagi kalau mereka tidak tinggal bersama orang tuanya, pengawasan orang tua juga kurang,” kata Kasat Lantas, Minggu (18/10/2026).

Hermanto menyebutkan, pelaku balap liar yang kerap ditemukan dan diamankan petugas didominasi kalangan pelajar SMP dan SMA. Aktivitas tersebut bahkan tidak lagi terbatas pada malam Sabtu maupun malam Minggu, tetapi berlangsung hampir setiap hari.

Ia menegaskan, penanganan balap liar tidak hanya menyasar para pembalap atau joki, tetapi juga penonton yang menyaksikan kegiatan tersebut. Sebab, keberadaan penonton dinilai turut mendorong berlangsungnya aksi balapan di jalan raya.

“Sekarang penonton dengan pembalap sama-sama kena pasal. Balap liar jarang terjadi kalau tidak ada yang menonton. Makanya, yang menonton pun juga akan dikenakan pasal,” tegasnya.

Menurut Hermanto, jumlah pelaku yang diamankan dari kalangan pembalap dan penonton diperkirakan relatif berimbang, yakni sekitar 50 persen untuk masing-masing kelompok. Karena itu, pihaknya mengingatkan masyarakat agar tidak terlibat maupun menyaksikan aksi balap liar.

Ia menjelaskan, selama penanganan karhutla, kepolisian tidak melakukan penindakan balap liar secara maksimal seperti sebelumnya. Personel Satlantas turut dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran sehingga pengawasan terhadap aktivitas balap liar mengalami keterbatasan.

“Kalau sebelumnya sampai 220 kendaraan sudah kita tindak. Selama karhutla ini, kita hanya mengubarkan karena anggota juga berjibaku memadamkan api. Mungkin karena kekurangan personel, kita hanya mengubarkan saja,” ungkapnya.

Meski demikian, pihaknya akan kembali melakukan penindakan tegas apabila aksi balap liar masih terus terjadi. Upaya tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta keselamatan pengguna jalan lainnya. dte/fwa-red

 

-
-
-