-
Palangka Raya

Panti Sosial Kurangi Jatah Makan

41
×

Panti Sosial Kurangi Jatah Makan

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Komisi III DPRD Kalteng yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kuwu Senilawati
-

PALANGKA RAYA/tabengan.co.id- Sejumlah keluhan serta aspirasi disampaikan kepada kalangan DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), disela kunjungan kerja dalam daerah belum lama ini. Salah satunya datang Panti Sosial Tresna Werdha Sinta Rangkang di Kota Palangka Raya, yang mendapat kunjungan dari jajaran dewan provinsi.
Menurut wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) I, meliputi Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan dan Gunung Mas (Gumas) Kuwu Senilawati, banyak usulan serta keluhan disampaikan para penghuni panti, yang notabene warga lanjut usia (Lansia) serta pihak pengurus. Yang jadi perhatian, dimana para pengurus panti terpaksa mengurangi jatah makan tambahan bagi para lansia.
“Pengurangan jatah makan tambahan diakibatkan oleh rasionalisasi anggaran, yang terpaksa dikurangi. Maka diharapkan, hal ini bisa menjadi perhatian pemerintah dalam bentuk perhatian maupun bantuan khususnya soal konsumsi, ujar Kuwu disela-sela rapat kerja belum lama ini.
Ironisnya, ucap dia, dana yang tersedia selama satu tahun untuk kebutuhan tersebut, tidak mencukup bagi penghuni panti. Disebutkannya dana yang dianggarkan hanya berkisar Rp 1 milyar, yang dalam perhitungan perharinya adalah Rp 42.150 per orang. Peruntukan dana itu sendiri tidak hanya untuk makanan saja namun juga kelengkapan mandi dan lainnya.
“Kalau sebelumnya untuk orang tua jompo Rp 1,7 juta per orang dalam satu tahun. Saat ini hanya Rp 1 juta saja. Padahal ada puluhan orang lansia yang mesti disantuni, ucap wanita murah senyum tersebut.
Sementara itu persoalan lain yang juga disoroti seperti kondisi fisik dari bangunan panti, yang dinilai memerlukan pembenahan. Sebut saja dinding yang retak serta atap bocor, jelas berdampak bagi kenyamanan penghuni panti. Selain itu, peralatan makan dan tidur juga tidak layak dan perlu diperbaharui atau diganti.
Sekretaris Komisi III itu menambahkan untuk ruang isolasi juga sangat minim dengan alat penunjang, dimana memerlukan tambahan tabung oksigen. Ruang obat-obatan yang harusnya steril dan dingin, tidak dilengkapi dengan fasilitas AC.
Politisi dari Partai Gerindra itu menuturkan, masalah lain yang mesti diperhatikan adalah rujukan bagi lansia, yang mesti dirujuk ke rumah sakit. Lansia yang harusnya dirujuk, terkendala biaya rujukan dan pendamping rujukan. Dana yang dianggarkan untuk rujukan hanya untuk biaya transportasi, pungkasnya. drn

-
-
-