PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Secara umum tugas seorang teller adalah melayani penarikan, transfer dan penyetoran uang dari pelanggan, serta melakukan pemeriksaan kas dan menghitung transaksi harian menggunakan komputer, kalkulator, atau mesin penghitung, dan juga Menerima cek dan uang tunai untuk deposit, memverifikasi jumlah, dan periksa keakuratan slip setoran.
Namun dengan percepatan yang terjadi di bidang keuangan dan perbankan muncul istilah “Kiamat Teller.” “Kiamat teller” menjadi momok bagi pekerja perbankan yang berada pada posisi teller.
Namun demikian, para pemimpin lembaga Keuangan Bank menegaskan, bahwa tidak ada yang namanya “Kiamat Teller.”
Hal itu juga ditegaskan Pemimpin BNI Palangka Raya, Maslipansyah kepada Tabengan, Senin (28/3), bahwa sesungguhnya tidak ada istilah tersebut.
Maslipansyah menyebutkan yang ada adalah hanya peralihan pola transaksi nasabah dari konvensional menjadi digital saja.
“Memang peran teller akan berkurang, namun angka transaksi meningkatkan melalui platform digital BNI mobile banking, ATM, mesin CRM, BNI direct, dan cash management. Nasabah sekarang tidak perlu lagi datang ke kantor layanan BNI,” bebernya.
Bahkan saat ini, kata Maslipansyah, BNI menyambut dan mengantisipasi kondisi tersebut “Kiamat Teller,” dengan berbenah diri. Persiapan BNI adalah dengan terus melakukan edukasi ke nasabah agar terus menggunakan digitalisasi transaksi.
“Teller-teller kita akan lebih difungsikan sebagai BNI digital asisten, jadi keberadaan tetap kami perlukan,” tukasnya.
Terpisah, Vice Presiden Bank Mandiri Palangka Raya, Suprijanto mengatakan hal serupa.
“Untuk Front Liner terutama teller kedepan menjadi fungsi marketing,” tandasnya. dsn
Himbara Antisipasi “Kiamat Teller” dengan Berbedah Diri





