PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Civitas Akademika Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar Rapat Terbuka Senat dengan mengusung agenda Wisuda Program Sarjana dan Pascasarjana periode Agustus 2022, sekaligus Pengukuhan Guru Besar, di Gedung Pusat Pengembangan Iptek dan Inovasi Gambut (PPIIG), Jalan Hendrik Timang, Senin (22/8/2022).
Peserta wisuda berjumlah 1.388 orang, dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebanyak 464 mahasiswa S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 318 mahasiswa S1 dan 14 mahasiswa S2, Fakultas Pertanian 176 mahasiswa S1, Fakultas Teknik 144 mahasiswa S1, serta Fakultas Hukum 84 mahasiswa S1 dan 36 mahasiswa S2.
Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para orang tua wisudawan dan wisudawati, karena telah menitipkan anaknya menempuh pendidikan tinggi di UPR.
“Kepada para peserta wisuda, saya berpesan agar memanfaatkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, untuk kesejahteraan dan melakukan inovasi-inovasi. Bahkan, alumni UPR dapat berkiprah secara nasional maupun internasional,” ucapnya.
Di sisi lain, Staf Ahli Wakil Presiden RI Dr Ir Agus Indarjo M Phil yang hadir secara langsung dalam prosesi wisuda mengatakan, kejadian Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Dr Karomani (KRM) dan sejumlah pejabat Unila dalam proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri, harus menjadi pembelajaran tersendiri bagi Civitas Akademika UPR.
“Saya mengingatkan jajaran di UPR untuk menghindari kompetisi-kompetisi yang tidak baik, seperti yang terjadi di Lampung, baru-baru ini. Hindari praktik-praktik yang menimbulkan efek hukum,” ungkapnya.
Dia juga meminta semua pihak untuk mengawal proses Pemilihan Rektor (Pilrek) UPR periode 2022-2026, dan hindari aspek hukum yang muncul.
“Tolong demokrasi Huma Betang harus dibumikan di UPR. Dalam rangka Pilrek, tolong berdemokrasi Huma Betang, artinya mengutamakan musyawarah dan mufakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keberhasilan Andrie Elia dalam memimpin UPR hampir 4 tahun terakhir. Karena banyak kemajuan yang diraih UPR, menuju kampus yang bertaraf internasional.
“Di UPR, selaku mantan Plt Rektor, saya mengatakan Enak Jaman Saiki To (Enak Zaman Sekarang kan). Ada berbagai indikator untuk membandingkan setiap Rektor di UPR, yaitu selama 4 tahun terakhir hampir semua Prodi terakreditasi, sarana-prasarana yang sudah cukup memadai, dan dukungan anggaran yang luar biasa dari pemerintah,” tandasnya.
Mantan Plt Rektor UPR periode 2017-2018 ini juga menjelaskan, saat dia menjabat Plt Rektor, lokasi yang saat ini digunakan untuk proses wisuda adalah hutan, dan tidak pernah dibayangkan akan berubah seperti saat ini. Namun saat ini berdiri megah 3 gedung dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, bahkan salah satunya menjadi gedung pusat penelitian gambut di dunia.
Sementara kepada para wisudawan dan wisudawati, Agus berpesan, selama sekitar 4 tahun menempuh pendidikan di UPR, maka wisudawan dan wisudawati harus mampu berkomunikasi serta bisa bicara, baik secara tertulis maupun secara lisan.
Dengan begitu, para peserta wisuda dapat menentukan langkah selanjutnya apakah ke depan akan studi lanjut, masuk entrepreneur, ataupun menjadi bagian instansi pemerintah dan swasta.
“Wisudawan harus profesional karenanya harus menjunjung kode etik, dan harus menjadi pegangan teguh. Harus menjadi pemimpin selevel apapun di tengah-tengah masyarakat, harus adaftif terhadap lingkungan, komunitas yang berbeda-beda, menjadi motivator, dan pandai bekerja sama,” cetusnya.
Selanjutnya, lulusan UPR harus menjadi pemikir, sebagaimana kata pepatah ‘Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina’. Bahkan, harus mampu menjadi agen perubahan.
“Hal ini menjadi cara untuk mempertahankan sukses yang telah diraih, sehingga lulusan UPR mampu berkiprah secara nasional maupun internasional,” pungkasnya. nvd











