*BPS Sebut karena Kenaikan Tarif PDAM
SAMPIT/TABENGAN.CO.ID- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur mencapai 8,85 persen (year on year) pada September 2022. BPS Pusat mendata inflasi di Kota Sampit merupakan yang tertinggi di Indonesia, posisi kedua di Kota Jayapura 8,62 persen dan Kota Padang di posisi ketiga 8,54 persen.
Kepala BPS Kotim Eddy Surahman membenarkan hal tersebut. Menurutnya, inflasi tahunan sebesar 8,85 persen itu dipengaruhi oleh kenaikan tarif PDAM pada Oktober 2021 lalu.
“Insya Allah dalam penghitungan inflasi tahunan (Year on year/yoy) bulan Oktober 2022 nanti yang rilis di tanggal 1 November 2022, efek kenaikan PDAM ini akan hilang, dan inflasi tahunan di Sampit akan turun,” ujarnya kepada Tabengan, Senin (3/10).
Namun kondisi inflasi tersebut akan menurun, ujarnya, juga sepanjang kondisi harga-harga sejumlah komoditas yang lainnya bisa terjaga. Selain itu, jika kenaikan tarif PDAM tersebut memberikan andil sebesar 1,81 persen terhadap inflasi tahunan di Kota Sampit. Untuk inflasi bulanan Sampit perbandingan IHK September 2022 terhadap Agustus 2022 sebesar 1,43 persen.
Untuk September 2022, terang Eddy, inflasi di Kota Sampit terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga pada beberapa kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,52 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,01 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,56 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen, kelompok kesehatan 0,06 persen, kelompok transportasi 8,78 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,20 persen, kelompok pendidikan 0,05 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,98 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,48 persen.
“Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan indeks harga pada September 2022 di antaranya bensin, beras, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, kacang panjang, ayam goreng, bakso siap santap, kangkung, sabun mandi cair, dan tarif kendaraan travel,” jelasnya.
Persoalan Supply and Demand
Terpisah, Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro menegaskan, perlu upaya pengendalian inflasi ke depan, di antaranya dengan cara menyediakan barang kebutuhan yang cukup di pasar, operasi pasar, pangkas rantai perdagangan, pastikan distribusi barang lancar, dan persempit para spekulan mempermainkan harga barang kebutuhan pokok.
“Inflasi September sangat dipengaruhi oleh faktor naiknya harga BBM,” beber Eko Marsoro, Senin.
Terkait upaya Pemda mengadakan pasar penyeimbang, menurutnya, ada beberapa pertimbangan agar pasar penyeimbang efektif dalam mengendalikan inflasi. Antara lain cakupan, frekuensi dan kapan waktunya.
“Cakupan bagaimana, apakah semua orang dapat membelinya, selanjutnya frekuensi berapa lama, kan tidak bisa selamanya. Lalu kapan, tanggal berapa, tanggal muda atau tua,” ujar Eko.
Eko juga menegaskan, inti dari mengatasi inflasi adalah persoalan supply and demand. Jika 2 hal ini terpenuhi, maka inflasi dapat dikendalikan.
Sebagaimana diketahui, beberapa komoditas utama yang turut andil dalam inflasi di Palangka Raya adalah bensin 0,81 persen, beras 0,11 persen, pasir 0,10 persen, bahan bakar rumah tangga 0,07 persen dan kacang panjang 0,04 persen.
Sedangkan turut andil dalam deflasi Palangka Raya adalah angkutan udara -0,18 persen, bawang merah -0,15 persen, tomat -0,05 persen, semangka -0,03 persen dan minyak goreng -0,03 persen.
Selanjutnya untuk Kota Sampit, komoditas utama yang menyumbang inflasi adalah bensin 0,89 persen, beras 0,09 persen, bahan bakar rumah tangga 0,07 persen, daging ayam ras 0,07 persen dan kacang panjang 0,05 persen.
Sedangkan pemberi andil dalam deflasi di Sampit, tomat -0,08 persen, bawang merah -0,06 persen, minyak goreng -0,06 persen, cabai rawit -0,04 persen dan ikan nila -0,03 persen. c-may/dsn











