-
Spirit Kalteng

2.000 Kasus HIV/AIDS di Kalteng, Hanya 40 Persen Berobat

47
×

2.000 Kasus HIV/AIDS di Kalteng, Hanya 40 Persen Berobat

Sebarkan artikel ini
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kasus HIV/AIDS tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari data yang ada di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), jumlahnya mencapai ribuan. Sebagian ada yang mengikuti pengobatan, namun ada juga yang tidak.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul MPPM menyampaikan, penularan HIV/AIDS terkait dengan perilaku seseorang. Di beberapa negara jumlah kasusnya sangat menurun karena aspek perilaku bisa diperbaiki. Konsepnya setia pada pasangan.

Kalau tidak bisa menahan diri lagi, maka pakai pengaman karena sampai sekarang belum ada pengobatan penyembuhan yang bisa diterima secara massal.

“Yang konfirmasi di kita itu banyak jumlahnya. Saya kurang pasti bakunya, tapi kurang lebih 2.000-an kasus. Tapi masalahnya yang berobat itu kurang lebih 40 persen, kendalanya di situ, sehingga 60 persen tidak kontak dengan kita, menutup diri, sehingga risiko penularan besar,” kata Suyuti, Minggu (4/12).

Namun, Suyuti membantah dari data tersebut ada kenaikan jumlah kasus di Kalteng. Dinkes Kalteng berusaha menghentikan kenaikan kasus melalui pendekatan dengan konsepnya seperti Covid-19. Isolasi mereka yang terdiagnosa, tetapi tidak dalam bentuk ditempatkan dalam satu tempat, namun dengan memproteksi diri supaya tidak menyebarkan ke orang lain.

Sementara itu, lanjut Suyuti, ada beberapa kasus HIV/AIDS yang sembuh jumlahnya tidak banyak, sekitar 3 atau 4 orang. Tetapi sangat rumit proses pengobatannya karena melalui transplantasi sumsum tulang belakang, sehingga tidak bisa dimassalkan.

Sebab itu, imbuh Suyuti, sampai sekarang seluruh sistem kesehatan berprinsip bahwa HIV/AIDS itu belum ada obat yang secara massal diterapkan untuk penyembuhan.

“Itu yang kemudian kuncinya saat ini adalah perilaku dan banyak hal yang memang kami coba kembangkan, misalnya mengembangkan teman sebaya, terutama yang pernah terkonfirmasi atau didiagnosa positif HIV/AIDS mau membantu memberitahu kepada yang lainnya. Itu banyak yang mau,” ujar Suyuti.

Langkah yang dilakukan Dinkes Kalteng, bertemu dengan kelompok sebaya penderita HIV/AIDS, didorong untuk berbicara mengenai dampak dari HIV/AIDS. Cara ini lebih mudah untuk diterima karena yang menyampaikan adalah sesamanya. Tujuannya untuk orang yang positif atau terdiagnosa HIV/AIDS, kita coba untuk memproteksi, sehingga tidak menyebar.

“Kan yang menyebarkan yang sudah terdiagnosa, sehingga kalau dia bisa, misalnya bisa setia pada pasangannya, menggunakan alat pengaman ketika kontak seksual, pasti kan bisa kurangi penyebarannya,” pungkas Suyuti. yml

-
-
-