PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Penyebaran virus Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah (Kalteng), memberikan dampak yang sangat besar. Tidak saja mengganggu stabilitas ekonomi, tapi juga berdampak pada Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Ibu (AKI).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kalteng dr Ferry Irawan, mengatakan, pandemi Covid-19 yang melanda Kalteng jelas memengaruhi AKB dan AKI Kalteng. Meskipun mengalami kenaikan, bersyukur kenaikan itu tidak melebihi angka yang ditetapkan secara nasional. Artinya AKB, AKI, dan Angka Kematian Neonatus (AKN) masih di bawah angka nasional.
dr Ferry, menjelaskan, 5 tahun terakhir angka kematian bayi, ibu, dan neonatus terus mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pandemi membuat angka kematian mengalami kenaikan, namun tidak melewati batas yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
”Berbicara nasional, pandemi membuat angka kematian ibu dan bayi menjadi penyumbang angka kematian akibat Covid-19. Selama pandemi 2021, ibu hamil, dan bayi ataupun anak yang meninggal menyumbang 30 persen dari angka kematian yang disebabkan oleh Covid-19,” kata dr Ferry, saat memberikan data terkait dengan AKB dan AKA Kalteng dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Selasa (27/12).
dr Ferry menerangkan, pada tahun 2018, penduduk Kalteng mencapai 2,6 juta lebih. Dari jumlah tersebut ada sebanyak 59.151 ibu hamil yang menjadi sasaran, dengan terdapat 81 kasus kematian. Di tahun 2019, jumlah penduduk Kalteng 2,7 juta lebih, sementara ibu hamil yang menjadi sasaran berjumlah 59.184, dan terdapat 74 kasus kematian. Di tahun 2020 mengalami penurunan. Dari 2,7 juta lebih penduduk Kalteng, ada 59.161 ibu hamil yang menjadi sasaran, dengan kasus kematian 68 kasus.
Menurut dr Ferry, peningkatan terjadi pada tahun 2021. Akibat pandemi Covid-19 ada sebanyak 96 kasus kematian ibu, dari 48.291 sasaran ibu hamil. Sampai Oktober 2022, angka kematian ibu berjumlah 46 kasus, dari 48.565 ibu hamil yang menjadi sasaran.
Beralih ke AKB dan AKN, tambah dr Ferry, di tahun 2018 dari 47.984 lahir hidup, dimana terdapat 302 kasus kematian neonatus. Tahun 2019, terdapat 49.510 lahir hidup, dengan kasus kematian neonatus berjumlah 283. Tahun 2020, dari 59.161 lahir hidup, ada 327 kasus kematian neonatus. Di tahun 2021, ada 48.291 lahir hidup, sementara angka kematian neonatus berjumlah 318.
AKB sendiri, ungkap dr Ferry, selama 2018 dari 47.984 lahir hidup, dimana terdapat 385 kasus kematian bayi. Tahun 2019, terdapat 49.510 lahir hidup, dengan kasus kematian bayi berjumlah 335. Tahun 2020, dari 59.161 lahir hidup, ada 367 kasus kematian bayi. Di tahun 2021, ada 48.291 lahir hidup, sementara angka kematian bayi bersumpah 377.
Berdasarkan data tersebut, kata dr Ferry lagi, angka kematian neonatus, dan bayi apabila dibandingkan dengan seribu kelahiran tidak mencapai 10, atau berkisar antara 5-8. Jumlah ini lebih rendah dari target nasional AKN tahun 2024 sebanyak 10 per seribu kelahiran hidup. Demikian pula untuk AKB, masih lebih rendah dari target nasional AKB tahun 2024 sebanyak 16 per seribu kelahiran hidup. ded











