Hukrim

HARAPAN DIBANGUN REPLIKA-Mengenang Jembatan Peninggalan Kolonial Belanda

39
×

HARAPAN DIBANGUN REPLIKA-Mengenang Jembatan Peninggalan Kolonial Belanda

Sebarkan artikel ini
HARAPAN DIBANGUN REPLIKA-Mengenang Jembatan Peninggalan Kolonial Belanda
TINGGAL KENANGAN-Jembatan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, ambruk dan hanyut diterjang banjir akibat meluapnya Sungai Karau, Selasa (2/1) malam lalu. TABENGAN/YULIUS YARTONO

TAMIANG LAYANG/TABENGAN.CO.IDJembatan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, ambruk dan hanyut diterjang banjir akibat meluapnya Sungai Karau, Selasa (2/1) malam lalu.

Puing-puing Jembatan Bakubung atau yang lebih lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Belanda itu, kini telah ditemukan warga Ampah Kota, setelah hanyut terbawa derasnya air beberapa waktu lalu.

Camat Dusun Tengah Prismayandi mengatakan, kondisi puing Jembatan Belanda yang tersisa sekitar 20 persen saja. Sedangkan untuk bagian puing lainnya yang berkonstruksi ulin berukuran 40×40 centimeter kemungkinan berada di dasar Sungai Karau.

“Kami bersama-sama masyarakat berharap ada sejarah yang ditinggalkan agar dibangun lagi dengan konstruksi berbeda, namun menyerupai atau dibangunkan replikanya,” kata Prisma, Senin (16/1).

Mengapa diberikan  nama Jembatan Belanda? Karena dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda, sekitar 1928. Posisinya membentangi Sungai Karau, terletak dekat Pasar Beringin di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah.

Prisma pun mengimbau warga untuk tidak memanfaatkan situasi dan kondisi puing Jembatan Belanda untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ini karena Jembatan Bakubung atau Jembatan Belanda masuk tercatat sebagai situs sejarah.

“Jika ada menemukan, laporkan kepada pemerintah setempat, supaya material jembatan tersebut tidak hilang 100 persen,” pintanya.

Menurut catatan, jembatan yang dibangun sekitar tahun 1928 dan membentang di atas Sungai Karau dan menghubungkan RT 01 dan RT 33 Kelurahan Ampah Kota tersebut, memiliki nilai historis bagi masyarakat Barito Timur karena dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Agar jembatan tersebut tetap berdiri kokoh, warga setempat berupaya mempertahankan keberadaannya dengan bergotong royong serta mengumpulkan sumbangan untuk memperbaiki jembatan yang terbuat dari kayu ulin itu. Namun sayang, ambruk dan hanyut diterjang banjir. Masyarakat berharap agar dibangun kembali, atau paling tidak dibuat replikanya untuk mengenang sejarah. c-yus