SPIRIT POLITIK

Perang Lobi di Partai Pusat Amankan Rekomendasi

19
×

Perang Lobi di Partai Pusat Amankan Rekomendasi

Sebarkan artikel ini
Perang Lobi di Partai Pusat Amankan Rekomendasi
ilustrasi/foto istimewa

*Ada Bacalon Bakal Gagal ke Pilgub

*4 Luar Biasa, 3 Maksimal, 2 Paslon Paling Mungkin

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Peta politik menjelang masa pendaftaran, khususnya untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Kalimantan Tengah (Kalteng), terus bergerak dinamis. Saat ini diprediksi sedang terjadi perang lobi politik tingkat tinggi untuk mengamankan rekomendasi.

Sejumlah bakal calon yang digadang-gadang maju Pilgub Kalteng, kabarnya terus intens mendekati Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Politik (Parpol). Alotnya tarik menarik koalisi, hingga saat ini tidak ada satu pun pasangan calon (Paslon) yang sudah pasti mengamankan kursi koalisi, untuk melenggang dan bertarung di Pilgub Kalteng, 27 November 2024 mendatang.

Beberapa nama saat ini muncul, dari Partai Golkar H Abdul Razak diwacanakan berpasangan dengan Perdie M Yoseph (PMY). H Agustiar Sabran dan H Edy Pratowo sudah mengantongi rekomendasi dari DPP Partai Gerindra, dengan 6 kursi.

Kemudian H Supian Hadi (SHD) sudah mengamankan tiket dari Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 4 kursi, dan diisukan berpasangan dengan Habib Ismail Bin Yahya dari PKB yang mempunyai 4 kursi serta Faridawaty Darland Atjeh dari NasDem, pemilik 5 kursi di DPRD Kalteng. Dan terbaru, Demokrat Kalteng mengklaim telah mengusung H Nadalsyah (Koyem) berpasangan dengan Sigit K Yunianto (SKY).

Namun, sejumlah nama yang muncul ke publik itu, dinilai belum pasti maju ke gelanggang pertarungan Pilgub Kalteng, karena saat ini perang lobi politik di tingkat DPP masih berlangsung sengit, untuk mengamankan rekomendasi.

Pengamat politik sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Palangka Raya (UPR) Ricky Zulfauzan menyebut, saat ini semua bacalon masih perang lobi politik di pusat, dan itu merupakan hal yang wajar.

“Karena bagaimanapun untuk maju sebagai Cagub harus mendapat rekomendasi dari DPP partai dan dari DPD itu mengikuti keputusan pusat,” kata Ricky kepada Tabengan, Kamis (1/8).

Ia menjelaskan, sejauh ini yang muncul hanya surat tugas dari partai politik kepada bacalon yang sifatnya belum final, karena rekomendasi final itu ada di BKWK. Oleh sebab itu, ia menyebut lobi politik di tingkat DPP, saat ini belum selesai.

“Kalau ada bacalon A mengklaim pegang surat dari partai-partai tertentu, itu belum final. Finalnya itu pada saat pendaftaran di 27-29 Agustus nanti. Sehingga saat ini semuanya masih cair dan masih belum bisa dikatakan selesai. Karena masih bisa terjadi kemungkinan berbagai hal,” bebernya.

Menurutnya, dari banyaknya bacalon yang muncul saat ini, ia memprediksi paling maksimal akan terjadi pertarungan tiga paslon.

“Kalaupun empat paslon, berarti itu luar biasa membagi petanya. Kita tahu kalau PDIP bisa mengusung sendiri, namun tidak mungkin akan mengusung sendiri dan tidak berkoalisi, otomatis merangkul yang parpol lain,” ungkapanya.

Ia juga mengatakan, untuk bacalon ataupun paslon yang sudah mengantongi rekomendasi rekomendasi parpol atau surat tugas, masih belum bisa bernapas lega, karena dinamika politik masih terjadi dan tensinya pun semakin tinggi, karena belum ada yang mengamankan BKWK. “Kita bisa melihat itu pada 27-29 Agustus, saat proses pendaftaran,” lanjutnya.

Dikatakan, parpol itu berpikir logis, dan tidak mungkin akan mengusung paslon yang akan kalah, semua parpol pasti mempersiapkan diri untuk menang. Di detik-detik akhir jelang pendaftaran, parpol akan memperkuat posisi dan membangun koalisi ke bacalon yang paling besar kemungkinannya untuk menang.

“Jadi kalau misalnya SHD maju, kita tahu suaranya di Kotawaringin Timur (Kotim) luar biasa. Karena Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kotim itu setara dengan tiga kabupaten lainnya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, kunci kemenangan Pilgub ada di Kotim, sehingga dari beberapa wilayah baik barat, timur atau tenggara para kandidatnya sudah diketahui.

“Tetapi pertarungan sejati itu ada di wilayah tengah, Kotim, Palangka Raya. Misalnya SHD bergabung dengan PKB, berpasangan dengan Habib, pemilihnya satu warna, Muslim. Kalau Agustiar, suaranya lebih cair, jika menggandeng Edy, orang Jawa sekaligus Muslim. Belum lagi orang-orang yang ada di jaringan adiknya H Sugianto Sabran,” kata Ricky.

Oleh sebab itu, ia mempredikasi, pada Pilgub ini maksimal pertarungan akan diisi 3 paslon, bahkan bisa jadi 2 paslon yang akan bertarung.

“Empat paslon itu luar biasa, tiga paslon itu maksimal, dua paslon itu yang paling mungkin,” tegasnya.

“Karena bagaimanapun parpol tidak mau konyol, gak mau zonk. Sehingga kemungkinan besar banyak bacalon yang akan berguguran sebelum masuk gelanggang dan itu terjadi di saat lobi-lobi di pusat,” pungkasnya. rmp