SPIRIT POLITIK

Ada Apa dengan PDIP? Pemenang Pileg Usung Wakil

13
×

Ada Apa dengan PDIP? Pemenang Pileg Usung Wakil

Sebarkan artikel ini
Ada Apa dengan PDIP? Pemenang Pileg Usung Wakil
Pengamat Politik dan akademisi dari Fisip Universitas Palangka Raya (UPR), Ricky Zulfauzan

+Kader Potensial Banyak Keluar

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – PDIP saat ini sedang tidak baik-baik saja. PDIP seperti kebingungan dalam menentukan arah politiknya, khususnya terkait pencalonan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kalimantan Tengah (Kalteng) 2024.

Bahkan hampir dua dekade PDIP menguasai Kalteng, perlahan mulai mengalami kemunduran. Mulai dari pemberian rekomendasi kepada calon gubernur (Cagub) yang dipilih bukan dari kader PDIP, hingga keluarnya kader-kader potensial PDIP.

Pengamat politik sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR) Ricky Zulfauzan mengaku, saat ini langkah politik PDIP di Kalteng sedang kurang menguntungkan.

Ia menjelaskan, PDIP memiliki sejarah panjang menguasai Kalteng sudah hampir dua dekade, sejak zaman Gubernur Agustin Teras Narang hingga Gubernur Sugianto Sabran.

“Melihat PDIP di Kalteng, terutama kejadian satu dua hari ini adalah apa yang ada diluar ekspektasi. Bagaimana PDIP di Kalteng bertahun-tahun selalu menjadi partai pemenang pemilu mulai dari 2004, 2009, 2014, 2019 dan 2024 dan itu berkali-kali menang di Kalteng secara beruntun sebanyak 5 kali atau quintrick,” kata Ricky kepada Tabengan, Kamis (15/8).

Ricky mengatakan, sebelumnya Kalteng yang dikuasai partai Golkar dan kemudian dikuasai PDIP menang sampai quintrick di pemilu legislatif. Cukup rugi jika partai sebesar PDIP dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalteng 2024 menaruh calon di nomor dua atau sebagai cawagub.

Karena bagaimanapun PDIP memiliki pengalaman panjang sebagai pemenang legislatif dan pemenang pilkada di Kalteng sejak zaman Gubernur Agustin Teras Narang dua periode, kemudian H Sugianto Sabran dua periode.

“Walaupun pada periode pertama PDIP mengusung Willy M Yoseph kadernya sendiri, namun pada akhirnya Sugianto selama memimpin dari PDIP. Sehingga selalu mengusung kader dari partainya sebagai calon gubernur,” bebernya.

Menurutnya, dengan sejarah panjang PDIP di Kalteng yang sampai quintrick ini, sangat luar biasa dan sangat menurunkan standarnya jika hanya jadi calon wakil gubernur di pilgub.

“Kemudian, terkait memilih kandidat di pilgub, PDIP memilih dari kader sebagai cawagub dan memilih calon gubernur dari non kader atau kader dari partai lain cukup disayangkan,” ujarnya.

Padahal, lanjut Ricky, PDIP ini tidak kekurang figur atau tokoh. “Hal ini menurut saya sangat disayangkan, kader-kader terbaik tidak diberikan kesempatan untuk dicalonkan,” tuturnya.

Sehingga, sangat disayangkan masih banyak kader PDIP potensial namun mengusung luar kader. “Termasuk misalnya Supian Hadi (SHD), jadi SHD merupakan salah satu kader terbaik milik PDIP, apalagi dirinya memiliki suara yang signifikan di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim),” ungkapnya.

Lebih lanjut Ricky juga melihat, mundurnya kader potensial PDIP Alfian Mawardi. Ia melihat mundurnya Alfian merupakan bentuk kekecewaan seorang kader yang merasa masih banyak kader-kader terbaik PDIP yang bisa dicalonkan sebagai bacagub. “Luapan kekecewaan ini saya lihat cukup besar efeknya. Karena kita ketahui Alfian merupakan caleg terpilih yang akan duduk di DPRD Kalteng,” jelasnya.

“Ini menurut saya luar biasa, mundurnya kader  terbaik PDIP yang potensial ini bisa menjadi cambukan dan harus menjadi evaluasi bagi PDIP untuk berbenah,” lanjutnya.

Ia juga menyarankan, agar PDIP untuk mengintropeksi diri. Walaupun secara umum PDIP merupakan partai pemenang pemilu legislatif di 2024, tetapi tidak menutup kemungkinan di 2029 PDIP tidak menjadi partai pemenang lagi dan bahkan akan perlahan nyungsep lebih dalam dan itu tidak menutup kemungkinan. “Kita tidak mengaharapkan itu terjadi tetapi itu tidak menutup kemungkinan PDIP akan nyungsep di pemilu selanjutnya kalau PDIP tidak berbenah dan tidak melakukan evaluasi,” katanya.

Ricky juga kemudian menyebut, faktor-faktor kenapa PDIP sampai memilih sebagai calon wakil saja di Pilgub Kalteng, bisa saja didasarkan semacam perintah agar asal bukan dari pendukung pak Prabowo. “Intinya menurut saya ada semacam perintah yang didukung PDIP termasuk di Kalteng asal bukan pendukung prabowo atau asal berbeda dari dukungan Prabowo, yang penting berbeda,” pungkasnya. rmp