Pantau Kondisi Lewat Aplikasi PERISAI
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya menyatakan kondisi kota saat ini berada dalam status siaga, menyusul meningkatnya intensitas curah hujan di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Palangka Raya Hendrikus Satria Budi, menjelaskan, berdasarkan pantauan melalui portal PRISAI, aplikasi pemantauan, curah hujan diperkirakan cukup tinggi pada akhir pekan ini.
“Kami telah menyiagakan seluruh personel untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Kewaspadaan ini menitikberatkan pada kesiapsiagaan semua unsur, baik dari instansi teknis maupun relawan,” ujarnya.
BPBD Palangka Raya juga rutin melakukan pemantauan lapangan dan patroli wilayah, termasuk menindaklanjuti laporan masyarakat terkait angin kencang dan pohon tumbang.
“Setiap laporan dari masyarakat langsung kami tindak. Saat ini tim TRC BPBD tengah melakukan pemantauan di wilayah Jalan Cilik Riwut hingga Kecamatan Bukit Batu. Pohon-pohon yang rawan tumbang baik yang sudah mati maupun yang condong ke badan jalan kami pangkas sebagai langkah antisipasi,” ungkapnya.
Selain patroli lapangan, pemantauan kondisi cuaca juga didukung oleh aplikasi PERISAI, sistem peringatan dini berbasis teknologi ini berfungsi sebagai Early Warning System atau sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi bencana.
“Aplikasi ini memudahkan kami dalam melakukan pemantauan dan patroli. Di dalamnya terdapat peta wilayah yang menampilkan daerah rawan banjir berdasarkan intensitas hujan. Sistem ini bekerja dengan kode warna hijau menandakan kondisi aman, kuning berarti perlu waspada, dan merah menunjukkan kondisi siaga tinggi atau berpotensi bahaya,” jelasnya.
Ia menambahkan, data dari aplikasi tersebut bersifat real time, sehingga memudahkan petugas di lapangan untuk mengetahui wilayah mana yang sedang diguyur hujan lebat.
“Misalnya, di Kelurahan Bukit Tunggal saat ini terpantau hujan deras. Dari tampilan aplikasi, kita bisa langsung tahu kondisi di setiap kelurahan berbeda-beda. Dengan begitu, langkah mitigasi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.
Menurutnya, peringatan dini kepada masyarakat juga segera disampaikan ketika sistem menunjukkan tanda bahaya (warna merah). Hal ini dilakukan agar warga bisa melakukan langkah antisipatif sejak dini, terutama di wilayah-wilayah rendah yang rawan genangan air.
“Kalau sudah merah, artinya kami harus siaga penuh. Kami langsung berkoordinasi untuk mitigasi, sekaligus mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi genangan dan banjir,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa secara umum kota masih tergolong aman dari banjir besar, selama sistem drainase berfungsi baik.
“Selebat apa pun hujan di Palangka Raya, kalau drainase di permukiman lancar, banjir besar tidak akan terjadi. Kalaupun ada genangan, biasanya hanya bertahan dua sampai tiga jam, lalu surut kembali,” tegasnya.
Namun, banjir bisa saja terjadi jika debit air meningkat di wilayah kabupaten tetangga, seperti Gunung Mas, Pulang Pisau, atau Kapuas.
“Kalau di Gunung Mas curah hujannya tinggi dan debit air naik, sementara di Kapuas atau Pulang Pisau air sedang pasang, maka limpasan air dari hulu bisa cepat masuk ke wilayah Palangka Raya. Pola ini sudah sering terjadi beberapa tahun terakhir,” lanjutnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Palangka Raya terus melakukan koordinasi lintas daerah dan memastikan kesiapan personel, peralatan, serta sistem pemantauan digital seperti PERISAI agar penanganan bencana bisa dilakukan secara cepat dan tepat. dte











