PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Seorang pria yang diketahui sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menggegerkan jemaah Masjid Kubah Hijau di Kota Palangka Raya, Selasa (17/2/2026) pagi.
Berdasarkan kejadian awal, pria tersebut masuk ke area masjid tanpa busana sembari membawa pakaian di tangannya. Kemudian, ia naik ke mimbar dan menggulung sajadah sebelum akhirnya berbaring di dalam masjid.
Menurut keterangan Pengurus Masjid Kubah Hijau, Lukman Nur Hakim, kejadian tersebut pertama kali diketahui dari laporan warga sekitar yang hendak melaksanakan salat dhuha, melihat seorang pria telanjang masuk ke dalam masjid.
“Warga melaporkan ke saya bahwa ada ODGJ telanjang masuk masjid. Kami khawatir mengamuk makanya langsung lapor ke Dinsos karena takut membahayakan. Kejadian seperti ini sudah dua kali terjadi,” ujarnya.
Sejumlah jemaah yang hendak melaksanakan salat dhuha memilih menjauh demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengurus masjid kemudian segera menghubungi Dinas Sosial (Dinsos) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palangka Raya untuk penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, Plt Kepala Dinsos Kota Palangka Raya Riduan menjelaskan, pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari pengurus masjid langsung mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi.
“Setelah menerima laporan, kami langsung mendatangi ke lokasi untuk mengevakuasi ODGJ ke rumah sakit jiwa agar mendapatkan pengobatan dan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Proses evakuasi dilakukan secara persuasif dan pendekatan humanis. ODGJ tersebut dibawa menggunakan ambulans menuju RSJ Kalawa Atei untuk mendapatkan perawatan medis.
Lebih lanjut, Riduan mengungkapkan, identitas pria tersebut belum masih diketahui. Namun, setelah informasi kejadian beredar di media sosial, sejumlah warga mengenalinya sebagai Nasir, warga Kota Palangka Raya.
“Kami berupaya menelusuri keberadaan keluarga yang bersangkutan untuk mendapatkan penanganan secara optimal,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau ke masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan ODGJ yang memerlukan penanganan, agar dapat ditangani dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Kejadian seperti ini peran keluarga dan lingkungan sangat penting untuk memastikan pengobatan bagi penyandang gangguan kejiwaan agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” pungkasnya. dte/red





