PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya (FISIP UPR) menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik. Karakter, kemampuan beradaptasi, hingga kepedulian sosial menjadi fondasi penting yang harus dibangun sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus.
Pesan itulah yang menjadi ruh pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FISIP UPR Tahun 2026 yang digelar pada 12–13 Agustus 2026.
Mengusung tema “Satu Langkah Bersama FISIP Membentuk Karakter Humanis, Adaptif, Progresif, dan Inspiratif”. Dekan FISIP UPR, Prof. Bhayu Rhama menjelaskan, PKKMB tahun ini tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter sebagai fondasi mahasiswa dalam menjalani pendidikan tinggi.
“Mahasiswa harus mampu menjalani kehidupan kampus dengan baik dan tepat waktu. Namun kegiatan akademik juga harus diimbangi dengan kegiatan sosial dan kemahasiswaan, sehingga mereka unggul tidak hanya secara akademis tetapi juga secara karakter,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).

Menurut Bhayu, mahasiswa baru akan diperkenalkan dengan berbagai aspek kehidupan kampus, mulai dari sistem akademik, fasilitas yang tersedia, hingga pihak-pihak yang dapat menjadi tempat mencari bantuan dan dukungan selama menempuh pendidikan.
“Mahasiswa diberikan panduan awal, dikenalkan kepada dosen, kakak tingkat, serta berbagai fasilitas yang mereka miliki. Harapannya mereka dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada di Universitas Palangka Raya sehingga bisa lulus tepat waktu dan meraih hasil maksimal,” katanya.
Lebih lanjut, tema PKKMB tahun ini memiliki makna mendalam yang mencerminkan komitmen seluruh sivitas akademika FISIP UPR dalam membentuk generasi mahasiswa yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Karakter humanis diarahkan untuk membangun budaya kampus yang bebas dari perundungan, kekerasan, dan sikap intoleran. Mahasiswa didorong menjadi pribadi yang menghargai sesama serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
Sementara karakter progresif dimaknai sebagai semangat untuk terus berkembang setiap hari. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi pemecah masalah berbasis data yang dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Karakter adaptif menekankan kemampuan mahasiswa menyesuaikan diri dengan dinamika dunia pendidikan tinggi, perubahan kurikulum, hingga perkembangan teknologi yang semakin pesat dalam menghadapi era Revolusi Industri 5.0.
Adapun karakter inspiratif diarahkan untuk mendorong mahasiswa berprestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.
“Harapannya mahasiswa baru FISIP tahun 2026 mampu membumi dan mendunia,” tegasnya.
Selain fokus pada pembentukan karakter, FISIP UPR juga memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan PKKMB yang edukatif dan bebas dari praktik perundungan maupun kekerasan.
Prof. Bhayu memastikan seluruh rangkaian kegiatan berada dalam pengawasan dosen yang telah ditetapkan melalui surat keputusan. Pengawasan juga dilakukan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, panitia mahasiswa, hingga pimpinan fakultas.
“Kami melakukan pengawasan secara top down dan bottom up. Ada monitoring dan evaluasi bersama untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan baik tanpa adanya kekerasan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Ia pun berpesan agar mahasiswa baru memanfaatkan momentum PKKMB sebaik mungkin sebagai bekal menjalani masa perkuliahan.
“Gunakan kesempatan ini untuk mendapatkan panduan yang maksimal sehingga nantinya menjadi mahasiswa yang dapat diandalkan dan mampu memberikan manfaat, baik dari sisi akademik, soft skills, maupun kontribusi kepada masyarakat,” tuturnya.
Pada PKKMB tahun ini, FISIP UPR menerima sebanyak 387 peserta, terdiri dari 107 mahasiswa jurusan Sosiologi, 141 mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara, 139 mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan dan 10 mahasiswa angkatan sebelumnya yang baru mengikuti kegiatan karena berbagai alasan, seperti kondisi kesehatan maupun keperluan keluarga.nws/fwa-red











