PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kabut asap yang masih menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya menjadi perhatian serius dalam operasional penerbangan. Kondisi jarak pandang terus dipantau dan dikoordinasikan dengan sejumlah pihak untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas.
General Manager (GM) Angkasa Pura, I Made Dermawan, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav Indonesia untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi jarak pandang di sekitar bandara.
“Karena masih di sekitaran bandara mengalami terdapat kabut asap. Kami selalu berkoordinasi dengan unit-unit terkait, yaitu BMKG dan AirNav, untuk memperoleh informasi terbaru terkait dengan jarak pandang,” kata I Made Dermawan.
Menurutnya, informasi mengenai jarak pandang menjadi salah satu bahan penting bagi maskapai dalam mempersiapkan penerbangan. Setiap keputusan operasional tetap mengedepankan aspek keselamatan penumpang maupun awak pesawat.
“Karena teman-teman maskapai harus melakukan persiapan penerbangan untuk mengutamakan aspek keselamatan,” ujarnya.
I Made Dermawan menjelaskan, mengacu pada standar International Civil Aviation Organization (ICAO), jarak pandang untuk mendukung proses lepas landas dan pendaratan berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 meter.
“Untuk visibility, kalau sesuai dengan standar dari ICAO, itu untuk jarak aman untuk take off–landing itu kisaran 1.500 sampai dengan 2.000 meter,” jelasnya.
Lebih lanjut, keputusan akhir mengenai pelaksanaan penerbangan berada pada kapten pilot. Pihak bandara bersama AirNav bertugas menyampaikan kondisi faktual di lapangan sebagai bahan pertimbangan penerbangan.
“Memang secara keseluruhan terkait dengan jarak pandang, itu semuanya diputuskan oleh kapten pilot penerbangan,” katanya.
Ia menambahkan, apabila kondisi jarak pandang tidak memenuhi persyaratan operasional, hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi maskapai dan pilot dalam menentukan kelanjutan penerbangan, termasuk kemungkinan terjadinya penundaan.
“Kami dari tim bandara udara bekerja sama dengan teman-teman AirNav menginformasikan dengan kondisi faktual yang ada di lapangan. Minimal jarak pandang untuk take off ini tuh bisa di 1.500 sampai dengan 2.000 meter,” ungkapnya.
Di tengah kondisi kabut asap, pengelola Bandara Tjilik Riwut juga menyiapkan fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang berada di lingkungan bandara.
Salah satunya berupa ruang oksigen yang dapat digunakan secara gratis. Selain itu, pihak bandara juga menyediakan stok masker untuk karyawan maupun penumpang sebagai upaya mengantisipasi dampak paparan kabut asap.
Ditempat terpisah, Kepala Pos Kesehatan Bandara Tjilik Riwut, N. Febriyanti, mengatakan penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari langkah kewaspadaan menghadapi kondisi khusus akibat kabut asap.
“Dari kami sendiri sesuai dengan arahan Pak General Manager di PT Bandara Tjilik Riwut, jadi kami menyediakan ruang oksigen secara gratis. Kemudian kami juga menyediakan stok untuk masker yang bisa didapatkan baik untuk karyawan ataupun penumpang yang ada di lingkungan bandara ini,” kata Febriyanti.
Ia menegaskan, masyarakat tidak dipungut biaya apabila membutuhkan layanan ruang oksigen tersebut.
“Iya, jelas semuanya gratis,” tegasnya.
Menurut Febriyanti, penyediaan ruang oksigen dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan terhadap dampak bencana kabut asap yang saat ini terjadi. Kebijakan tersebut telah dituangkan melalui arahan dari General Manager Bandara Tjilik Riwut.
“Kalau yang untuk ruang oksigen ini, ini memang berkaitan dengan kewaspadaan terkait bencana kabut asap ini dan itu sudah dituangkan dalam surat dari Pak GM sendiri. Dan sekarang juga dalam situasi khusus ya, terkait dengan dampak kabut asap,” jelasnya.
Meski fasilitas telah disiapkan, hingga saat ini belum ada masyarakat atau penumpang yang menggunakan ruang oksigen di Pos Kesehatan Bandara Tjilik Riwut.
“Kalau sejauh ini pasien yang datang ke sini di ruang oksigen ini belum ada digunakan,” ujar Febriyanti.
Namun, pihak Pos Kesehatan tetap aktif membagikan masker secara gratis kepada masyarakat yang berada di lingkungan bandara. Pembagian dilakukan, antara lain, di area keberangkatan maupun kedatangan.
“Kami menyebarkan atau membagikan masker ini secara gratis kadang ke bagian keberangkatan ataupun kedatangan,” katanya.
Dengan demikian, hingga saat ini belum terdapat penumpang yang membutuhkan fasilitas oksigen akibat paparan kabut asap di kawasan bandara.
“Betul,” kata Febriyanti singkat saat memastikan belum ada masyarakat yang menggunakan ruang oksigen yang tersedia.
Sementara itu, I Made Dermawan mengimbau calon penumpang agar aktif memantau perkembangan jadwal penerbangan. Hal tersebut penting dilakukan mengingat kondisi kabut asap masih berpotensi memengaruhi operasional penerbangan.
“Untuk para penumpang yang akan melakukan perjalanan dengan fasilitas udara, kami harapkan selalu melakukan pengecekan terkait dengan perubahan jadwal. Mengingat kondisi kabut asap memang masih menjadi faktor utama dari gangguan operasional,” tuturnya.
Calon penumpang dapat memperoleh informasi melalui aplikasi daring resmi, surat elektronik, maupun nomor layanan yang telah disediakan apabila terjadi perubahan jadwal penerbangan.
“Masyarakat bisa melakukan pengecekan di aplikasi online resmi ataupun email, kemudian menghubungi nomor telepon yang memang tersedia apabila memang terjadi perubahan-perubahan jadwal,” jelasnya.
Pihak bandara juga akan terus menyampaikan informasi terbaru apabila terjadi perubahan jadwal penerbangan yang berkaitan dengan kondisi kabut asap. Selain memperhatikan perkembangan penerbangan, masyarakat yang hendak bepergian melalui jalur udara juga diimbau menjaga kesehatan selama berada di tengah kondisi udara yang terpapar asap.
“Kami mengimbau kepada masyarakat yang akan melakukan perjalanan dengan sektor udara agar tetap menjaga kesehatan, mengutamakan kesehatan dan keselamatan, kemudian tetap mempergunakan masker untuk menjaga kesehatan untuk terhindar dari gangguan penyakit,” pungkasnya. mak/fwa-red.











