-
DPRD BARITO UTARA

Kabut Asap Makin Pekat, Hj Nety Minta Sekolah Tingkatkan Perlindungan Siswa

131
×

Kabut Asap Makin Pekat, Hj Nety Minta Sekolah Tingkatkan Perlindungan Siswa

Sebarkan artikel ini
Hj Nety Herawati, Ketua Komisi I DPRD Barut
-

MUARA TEWEH/TABENGAN.CO.ID – Kualitas udara di Kabupaten Barito Utara (Barut) kian memprihatinkan. Menyusul kabut asap yang semakin pekat sejak awal Agustus 2026, DPRD Barut meminta seluruh satuan pendidikan meningkatkan langkah perlindungan terhadap peserta didik.

Ketua Komisi I DPRD Barut Hj Nety Herawati, menilai kondisi saat ini perlu menjadi perhatian serius. Pasalnya, anak-anak termasuk kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

“Kita melihat kabut ini mulai sangat parah sejak awal Agustus. Saat ini kita tidak lagi bisa menghirup udara bersih dan jarak pandang juga tidak terlalu jauh akibat kabut,” ujar Nety saat ditemui di ruang Komisi I DPRD Barut, Kamis (20/8/2026).

Menurut Nety, kabut asap yang menyelimuti wilayah Barut tidak serta-merta dapat dipastikan berasal dari kebakaran hutan dan lahan di daerah setempat. Asap juga berpotensi terbawa angin dari kabupaten lain di sekitarnya. Namun demikian, dampaknya tetap dirasakan dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama pelajar.

Karena itu, Ia meminta Dinas Pendidikan (Disdik) memberikan arahan tegas kepada sekolah dan tenaga pendidik agar segera mengambil langkah pencegahan. Salah satu rekomendasi yang dinilai paling mendesak adalah mewajibkan peserta didik menggunakan masker, khususnya ketika berada di luar ruangan atau melakukan aktivitas yang berpotensi terpapar kabut asap.

“Terutama anak-anak sekolah, kita harapkan Disdik memberikan arahan kepada guru-guru untuk mengantisipasi anak-anak kita terserang penyakit seperti asma, pilek, dan penyakit lainnya,” katanya.

Nety juga menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap makanan yang dijual di lingkungan sekolah. Menurutnya, makanan yang dikonsumsi siswa harus dipastikan aman dan higienis untuk mencegah munculnya gangguan kesehatan seperti muntaber dan sakit perut.

Di sisi lain, Nety menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Barut. Berdasarkan laporan yang diterima Komisi I DPRD, tingkat konsumsi makanan MBG di sejumlah sekolah penerima program masih tergolong rendah.

“Dari laporan yang kami terima, di sekolah-sekolah yang sudah mendapatkan MBG hanya terserap sekitar 40 sampai 50 persen. Tidak semuanya termakan,” ungkapnya.

DPRD berharap pemerintah daerah segera merespons masukan ini dengan langkah konkret, baik dalam penanganan darurat kabut asap maupun perbaikan pelaksanaan program gizi bagi generasi muda Barut. old/dre-red

-
-
-