PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengepung hampir seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Pemerintah daerah dan masyarakat dibuat pusing karena bencana karhutla yang menyesakkan napas ini tak kunjung reda.
Berdasarkan Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla per 18 September 2026, tercatat 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh Kalimantan Tengah.
Selain ISPA, kasus diare juga tercatat tinggi. Akumulasi kasusnya mencapai 22.533 kasus.
Di Kota Palangka Raya, pemerintah setempat memperkuat ruang fiskalnya untuk menghadapi potensi bencana hingga akhir tahun. APBD Perubahan 2026 Palangka Raya resmi ditetapkan dengan tambahan anggaran sekitar Rp28 miliar.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, kenaikan APBD tersebut bersumber dari tambahan pendapatan daerah. Sekitar Rp16 miliar berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), sedangkan sekitar Rp12 miliar lainnya berasal dari dana transfer.
“APBD-nya dari Rp1,1 triliun menjadi Rp1,2 sekian, ada kenaikan Rp28 miliar,” kata Fairid, Jumat (18/9/2026).
Sementara itu, hingga 19 September 2026, di wilayah Palangka Raya telah terjadi 600 Karhutla: Jekan Raya 383, Pahandut 51, Sebangau 125, Bukit Batu 37 dan Rakumpit 4 kejadian. Total 1256,18 Hektare Karhutla dengan 74 tempat kejadian.
ISPA Kobar Meningkat
Kobar, berdasarkan catatan Dinkes setempat, ada 14.086 kasus Infeksi Saluran ISPA hingga minggu epidemiologi ke-36 2026. Kenaikan kasus ISPA meningkat terjadi pada akhir Juli hingga Agustus, ketika aktivitas karhutla meningkat.
Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar menunjukkan kasus ISPA mulai meningkat pada minggu epidemiologi ke-29. Pada minggu sebelumnya tercatat 335 kasus, kemudian naik menjadi 457 kasus dan kembali meningkat menjadi 468 kasus pada minggu ke-30.
Puncak terjadi pada minggu ke-31 dengan 566 kasus. Dibandingkan minggu ke-28, jumlah tersebut meningkat 68,9 persen. Setelah itu kasus menurun menjadi 514 kasus pada minggu ke-32, 461 kasus pada minggu ke-33, dan 422 kasus pada minggu ke-34.
“Kasus kembali meningkat pada minggu ke-35 menjadi 534 kasus. Pada minggu ke-36, jumlahnya turun menjadi 471 kasus atau berkurang 11,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, angka tersebut masih 40,6 persen lebih tinggi dibandingkan minggu ke-28.,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardino melalui kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, Jumat (18/9/2026).
Udara Pulang Pisau Tak Sehat
Berdasarkan data Posko Karhutla pada BPBD Kabupaten Pulang Pisau per 17 September 2026, tercatat 16.789 hotspot, 143 kejadian Karhutla, dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 3.699,7 hektare di delapan kecamatan.
Kualitas udara di Pulang Pisau juga menunjukkan situasi yang perlu diwaspadai. Hasil pemantauan pada 19 September 2026 pukul 11.18–12.17 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 120,63 µg/m³, masuk kategori tidak sehat.
Pemantauan dilakukan menggunakan Environmental Particle Air Monitor (EPAM-5000) untuk mengukur konsentrasi partikulat secara real-time.
Sementara itu, Pemkab Pulpis meningkatkan status penanganan bencana dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat melalui Keputusan Bupati Pulang Pisau Nomor 314 Tahun 2026 tentang Peningkatan Status Siaga Darurat Menjadi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan, Lahan dan Kekeringan.
Data per 17 September menunjukkan Jabiren Raya menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 1.639,8 hektare. Disusul Pandih Batu 561 hektare, Kahayan Kuala 516,5 hektare, Kahayan Tengah 358,37 hektare, Kahayan Hilir 260,58 hektare, Sebangau Kuala 243,25 hektare, Banama Tingang 117,7 hektare, dan Maliku 2,5 hektare.
Dari jumlah kejadian, Kahayan Hilir tercatat paling banyak dengan 32 kejadian, disusul Kahayan Tengah 24 kejadian, Banama Tingang 22 kejadian, Sebangau Kuala dan Kahayan Kuala masing-masing 20 kejadian, Pandih Batu 11 kejadian, Jabiren Raya 10 kejadian, serta Maliku empat kejadian.
Kotim 26.335 Hotspot dan 1.848 Hektare Karhutla
Berdasarkan data BPBD Kotim per 18 September 2026, jumlah penanganan kejadian karhutla telah mencapai 981 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.848,72 hektare.
Kepala BPBD Kotim, Imam Subekti, mengatakan hingga saat ini kebakaran yang terjadi di wilayah Kotim masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
“Kebakaran yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur masih belum menunjukkan akan berhenti,” kata Imam Subekti saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9/2026).
Berdasarkan data BPBD Kotim per 18 September 2026, jumlah penanganan kejadian karhutla telah mencapai 981 kejadian dengan total luas lahan terbakar
Hingga pertengahan September, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 703,50 hektare atau sekitar 38,05 persen dari total luas karhutla di Kotim.
Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan luas lahan terbakar 421,28 hektare atau 22,79 persen.
Sementara Kecamatan Baamang berada di urutan ketiga dengan luas terbakar mencapai 362,71 hektare atau 19,62 persen.
BPBD mencatat hingga 18 September 2026 pukul 08.16 WIB, jumlah hotspot di Kotim telah mencapai 26.335 titik. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencatatkan 453 hotspot.
Data kumulatif resmi terakhir menunjukkan total 16.855 kasus ISPA tercatat sejak Januari hingga akhir Agustus 2026.
Lonjakan tertinggi sepanjang tahun ini terjadi pada bulan Agustus 2026 dengan 2.656 kasus akibat memburuknya kualitas udara yang dipicu oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karhutla Bartim Seluas 819 Ha, 1.713 Terdampak ISPA
Kualitas udara di Bartim berdasarkan dashboard SIPD BPBD Damkar Bartim, hingga Sabtu, 19 September 2026, tercatat 595 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 819 Ha. Sedangkan untuk kualitas udara terlihat dari catatan Indeks ISPU. Dalam pemantauan selama 7 hari terakhir, rata-rata ISPU tercatat mencapai antara 712,0-1.239 dan 1.396 berada pada kategori berbahaya.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Bartim, Parluhutan Tampubolon, mengatakan 1.713 warga yang tercatat terdampak ISPA.pea/nws/uli/mie/may-red











