-
Hukrim

Polemik Siram Jalan di Samuda Picu Konflik Warga

114
×

Polemik Siram Jalan di Samuda Picu Konflik Warga

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga jalan HM Noor yang merasa keberatan dengan aksi salah satu warganya yang kerap membasahi jalan dengan cara berlebihan (Maya Selviani)
-

Jalan rusak dan becek karena terlalu di basahi (Maya Selviani)SAMPIT/TABENGAN.CO.ID- Polemik penyiraman jalan di Jalan H Muhammad Noor RT 003/RW 001, Kelurahan Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memancing amarah warga setempat. Setelah sebelumnya Norsariyati menyampaikan keberatan karena dipanggil pihak kelurahan, kini H Syamsyudinnor atau akrab disapa H Isam memberikan klarifikasi.

Ditemui Kamis (24/9), H Isam mengatakan, persoalan tersebut bermula dari kondisi badan jalan yang sebelumnya telah ditimbun kembali karena mengalami kerusakan. Ia mengaku turut membantu penimbunan agar akses tersebut dapat kembali dilalui masyarakat.

Namun, persoalan muncul setelah aktivitas penyiraman air di badan jalan berlangsung selama bulan kemarau berlangsung. Menurut H Isam, penyiraman dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari dengan volume air yang dinilainya terlalu banyak hingga menyebabkan badan jalan tergenang.

“Kalau mau menyiram di sekitar warung, silakan. Kita tidak melarang menyiram, tetapi sewajarnya. Jangan sampai tergenang dan airnya sampai ke jalan, itu berlebihan,” ujar H Isam.

Ia mengaku telah beberapa kali menegur Norsariyati terkait persoalan tersebut. Namun, ia membantah teguran yang disampaikannya bertujuan memojokkan ataupun dilakukan dengan sikap sebagaimana yang ditudingkan.

“Kita benar menegur, cuma masalah nada tinggi dan mata melotot itu tidak benar. Memang seperti itu nada saya berbicara,” katanya.

H Isam juga meluruskan mengenai laporan ke Kelurahan Samuda Kota. Ia menegaskan bukan dirinya yang secara langsung melaporkan Norsariyati ke pihak kelurahan.

Menurutnya, keluhan tersebut disampaikan Ketua RT setelah adanya keresahan dan pengaduan sejumlah warga terkait kondisi jalan tersebutm

“Kalau soal saya melapor, tanya saja ke kelurahan. Yang melapor itu Ketua RT,” tegasnya.

Setelah persoalan dibawa ke tingkat kelurahan, H Isam mengaku bersedia mengikuti proses mediasi dan menyelesaikan persoalan secara damai. Bahkan, ia menyebut telah beberapa kali menyampaikan permintaan maaf. Namun, pertemuan yang berlangsung Selasa (22/9) belum menghasilkan kesepakatan.

Selain itu, H Isam membantah tudingan bahwa kendaraan angkutan sawit miliknya menjadi penyebab kerusakan jalan akibat membawa muatan berlebih.

Persoalan tersebut juga mendapat perhatian Mantir Adat Samuda Kota, Abdul Manap. Ia mengaku telah melihat langsung kondisi jalan dan menilai kerusakannya cukup parah, terutama saat permukaan jalan dalam kondisi terlalu basah.

“Memang parah. Kemarin itu banyak perempuan dan anak-anak yang jatuh. Warga yang berjalan kaki, termasuk orang tua, juga kesulitan karena jalannya licin,” ujar Abdul Manap.

Menurutnya, dirinya tidak pernah secara langsung menegur pihak yang melakukan penyiraman. Namun, berdasarkan informasi yang diterima olehnya,sudah cukup banyak warga yang menyampaikan teguran terkait kondisi tersebut.

Ia berharap persoalan itu tidak berkembang menjadi konflik antarwarga dan penyelesaiannya tetap mengedepankan mediasi.

“Saya berharap jangan sampai masalah ini berlanjut. Kalau bisa dimediasi dulu, didamaikan. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya kecil justru menjadi konflik,” katanya.

Hal senada disampaikan Migran, warga RT 04. Ia mengatakan masyarakat sekitar turut merasakan dampak kondisi jalan tersebut.

Menurutnya, penyiraman untuk mengurangi debu sebenarnya dapat dipahami. Namun, volume air yang terlalu banyak justru membuat warga kesulitan melintas, termasuk ketika hendak menuju masjid.

“Niatnya mungkin baik, untuk mengurangi debu. Tetapi menurut kami penyiramannya berlebihan. Jalan yang awalnya tidak terlalu berlubang akhirnya menjadi lubang besar,” ungkapnya.

Migran juga menyebut H Isam selama ini memiliki kontribusi terhadap masyarakat sekitar. Karena itu, ia berharap persoalan tersebut tidak sampai merusak hubungan antarwarga.

Ia mengatakan sebagian warga sempat mempertimbangkan menyampaikan aspirasi melalui aksi terbuka apabila persoalan tidak menemukan penyelesaian. Meski demikian, mediasi tetap diharapkan menjadi jalan utama.

Hingga kini, persoalan penyiraman jalan tersebut masih menyisakan perbedaan pandangan. Sebelumnya Norsariyati menyebut penyiraman dilakukan untuk mengurangi debu, sementara H Isam dan sejumlah warga mempersoalkan volume penyiraman yang dinilai berlebihan hingga menyebabkan genangan.

Sementara terkait penyebab kerusakan jalan, masing-masing pihak memiliki pandangan berbeda. Persoalan tersebut masih memerlukan penjelasan dari pihak terkait untuk memastikan penyebab kerusakan jalan. (May/jsi-red)

 

-
-
-