-
Spirit Kalteng

Hotspot Karhutla Kalteng Melonjak 596 Titik

38
×

Hotspot Karhutla Kalteng Melonjak 596 Titik

Sebarkan artikel ini
BERTAMBAH LAGI-Sebaran hotspot berdasarkan pantauan Sipongi, Rabu (4/11/2026). FOTO IST
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Titik panas (hotspot) yang terindikasi sebagai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng, jumlah hotspot tercatat mencapai 596 titik pada Selasa (3/11/2026), meningkat dibandingkan sehari sebelumnya, Senin (2/11/2026), yang tercatat sebanyak 235 titik.

Dengan demikian, terjadi penambahan sebanyak 361 titik hotspot dalam sehari. Peningkatan ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk terus memperkuat pemantauan dan upaya penanganan karhutla di seluruh wilayah Kalteng.

Berdasarkan data BPBD Kalteng, sebaran hotspot tertinggi berada di Kabupaten Kapuas dengan 197 titik. Disusul Kabupaten Kotawaringin Barat 103 titik, Seruyan dan Pulang Pisau masing-masing 77 titik, Barito Selatan 49 titik, serta Katingan 35 titik.

Selanjutnya, Kota Palangka Raya tercatat 21 titik, Kotawaringin Timur 18 titik, Lamandau 17 titik, dan Barito Utara dua titik. Sementara itu, Kabupaten Gunung Mas, Murung Raya, Barito Timur, dan Sukamara tidak mencatat adanya hotspot.

Selain peningkatan titik panas, data tersebut juga mencatat sebanyak 19 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 42,86 hektare. Kabupaten Kapuas menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni 20,30 hektare dari dua kejadian.

Sementara itu, Kabupaten Sukamara mencatat luas lahan terbakar 10 hektare dari satu kejadian, disusul Kotawaringin Barat empat hektare dari satu kejadian, Barito Utara 3,16 hektare dari satu kejadian, dan Kota Palangka Raya dua hektare dari dua kejadian.

Ahmad Toyib mengatakan, peningkatan jumlah hotspot tersebut harus menjadi perhatian bersama, mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Kalteng.

“Terjadi peningkatan titik hotspot dari sebelumnya 235 titik pada 2 November menjadi 596 titik pada 3 November 2026. Kondisi ini harus menjadi perhatian kita bersama. Pemantauan dan langkah antisipasi perlu terus diperkuat agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” ujarnya, di Palangka Raya, Rabu (4/11/2026).

Ia menegaskan, upaya pencegahan dan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, petugas gabungan, dunia usaha hingga masyarakat. Kewaspadaan masyarakat juga diperlukan, terutama agar tidak melakukan pembakaran lahan saat membuka maupun membersihkan area perkebunan dan pertanian.

Dalam data BPBD Kalteng tersebut, tercatat sebanyak 16.478 personel gabungan disiapkan dalam mendukung penanganan karhutla. Selain itu, terdapat sembilan unit helikopter dan sembilan unit pesawat untuk mendukung operasi modifikasi cuaca maupun patroli.

Di sisi lain, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Data hingga Minggu IV Oktober 2026 mencatat sebanyak 3.543 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.234 kasus diare.

Untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, tercatat tersedia 253 lokasi rumah oksigen yang tersebar di wilayah Kalteng. Sementara itu, sebanyak 223 sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) tingkat kabupaten/kota sebagai bagian dari langkah antisipasi dampak kabut asap.

Ahmad Toyib mengingatkan pentingnya sinergi dan kepedulian seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi potensi karhutla. Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

“Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan agar Kalteng bebas kabut asap,” pungkasnya. ldw/ded-red

 

-
-
-