Ekobis  

Pasokan Terlambat, Antrean BBM Mengular

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Antrean panjang menghiasi hampir semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya, beberapa hari terakhir. Ini terjadi lantaran terjadi kekurangan bahan bakar minyak (BBM), ditambah terjadi kenaikan Pertamax cs pada Rabu kemarin (lihat tabel harga untuk Kalteng).

SE Retail Fuel Marketing Pertamina Palangka Raya Anditya Anwar mengakui, terjadi keterlambatan distribusi BBM untuk wilayah Palangka Raya dan sekitarnya.

Seharusnya stok BBM datang pada Minggu (7/10), baru tiba pada Senin (8/10), sehingga ada pengaturan distribusi BBM ke SPBU. “Diprediksi, Kamis (11/10) sudah normal kembali,” kata dia.

Andi juga menjelaskan, terlambatnya kapal stok BMM berlabuh di Pulang Pisau tidak hanya berimbas ke Palangka Raya, tapi juga seluruh Kalteng. “Saat ini distribusi telah dilakukan untuk menormalkan kembali kondisi di SPBU,” urai dia.

Ia membantah isu kuota BBM Kalteng dialihkan untuk membantu di Palu dan Donggala. “Seluruh pulau sudah diatur distribusinya,” ujar dia.

Kelangkaan BBM beberapa hari terakhir juga disorot Sekretaris Komisi B DPRD Kota Alfian Batnakanti. “Empat hari ini terjadi kelangkaan bahan bakar, tapi belum diketahui pasti apa penyebab kelangkaan. Bahkan kemarin ada SPBU yang hanya menjual Pertamax, untuk Pertalite dan solar kosong,” kata dia, Rabu (10/10).

Politisi dari Partai Gerindra ini meminta pemerintah memberikan penjelasan mengenai penyebab sulitnya mendapatkan BBM di SPBU. “Apakah akibat terganggunya rantai pasokan BBM atau karena ada rencana kenaikan harga. Itu yang harusnya disampaikan kepada masyarakat umum,” kata dia.

Pertamax naik
PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax Series dan Dex Series, serta Biosolar Non-PSO, Rabu (10/10) pukul 11.00 WIB. Menurut External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita, penyesuaian harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non-PSO merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik.

“Saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus 80 dolar per barel, di mana penetapannya mengacu pada Permen ESDM No 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM,” jelas Arya dalam keterangan tertulisnya.

Pemerintah sebenarnya juga berencana menaikan harga Permium menjadi Rp 7.000 perliter pada Rabu malam pukul 18.00 WIB. Tapi rencana ini kemudian ditunda.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, rencana kenaikan harga Premium di Jamali (Jawa-Madura-Bali) menjadi Rp7.000 dan di luar Jamali menjadi Rp6.900 agar ditunda,” kata Menteri ESDM Ignatius Jonan, Rabu (10/10).

Menurut Jonan, rencana kenaikan Premium akan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina (Persero). “Jadi Pertamina butuh waktu untuk perhitungan. Jadi untuk sementara ditunda sampai Pertamina siap,” tambah Jonan.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan, penundaan kenaikan harga BBM jenis Premium lebih karena belum siapnya PT Pertamina. “Jadi bahwa setelah arahan Menteri BUMN setelah dikroscek ke Pertamina, Pertamina belum siap untuk menaikkan Premium karena Pertamax baru naik,” kata Harry di Nusa Dua, Bali.

Mekanisme kenaikan harga BBM jenis Premium sudah tertuang dalam Perpres Nomor 42 Tahun 2018. Diantaranya harus ada koordinasi dan pemberitahuan ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pemerintah berencana menaikan harga BBM jenis Premium menjadi Rp7.000 per liter. Penundaan kenaikan harga BBM ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). m-ybs/mel/fwa/d-com