Ekobis

Nilai Tukar Petani Kalteng Tertinggi di Kalimantan

22
×

Nilai Tukar Petani Kalteng Tertinggi di Kalimantan

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) selama Oktober 2019 sebesar 97,35 persen merupakan yang tertinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan.

“NTP Kalteng kembali menjadi yang tertinggi seperti pada September 2019 lalu, dimana sebelumnya berkisar 96,62 persen,” ujar kepala BPS Kalteng Yomin Tofri kepada Tabengan, Jumat (22/11).

Sementara itu, NTP Kalimantan Timur (Kaltim) menempati posisi kedua dengan nilai 94,88 persen diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 94,49 persen serta Kalimantan Barat 93,96 persen.

Lebih lanjut, ia mengaku bahwa untuk Kalteng terjadi kenaikan sebesar 0,43 poin, sedangkan pada bulan sebelumnya hanya berkisar 0,34 poin. Kenaikan ini dipengaruhi peningkatan pada sub sektor perkebunan rakyat sebesar 1,00 poin, holtikultura 0,85 poin dan tanaman pangan 0,09 poin.

“Kalau dilihat peningkatan NTP ini disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani sebesar 0,68 poin dan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,10 poin. Secara keseluruhan juga merupakan refleksi dari kenaikan nilai tukar pada 3 subsektor tersebut,” jelasnya.

Menurut Yomin, menguatnya nilai tukar pada sektor tanaman perkebunan rakyat dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas kelapa sawit dan karet.

“Walaunpun begitu mengkatnya begitu signifikan, namun untuk indeks harga merupakan yang terendah bila dibandingkan dengan sub sektor lainnya,” bebernya.

Dikatakannya lagi, subsektor dengan nilai tertinggi berasal dari perikanan sebesar 111,05 persen. Sektor ini merupakan andalan bagi Kalteng, namun selama Oktober 2019 terjadi penurunan niali tukar.

“Penurunan ini akibat dari meningkatnya indeks harga yang dibayar nelayan atau pembudidaya ikan sedangkan indeks harga yang diterima nelayan melemah, yang paling anjlok berasal dari kelompok perikanan budidaya. Terutama pada melemahanya indeks harga komoditas nila dan patin,” ungkapnya.

Disisi lain, sektor tanaman pangan dari segi nilai tukar produksi secara mandiri masih belum mampun mengimbangi tingginya harga kebutuhan konsumsi dan biaya produksi. Hal ini terlihat dari indeks harga yang diterima petani hanya sebesar 128,26 persen, jauh lebih rendah dari indeks harga yang dibayuar petani sebesar 135,52 persen.

“Namun ada beberapa hasil produksi yang meningkat dari kelompok padi sebesar 0,13 poin dan palawija 0,40 poin. Kenaikan indeks harga palawija sebagian besar dipengaruhi meningkatnya indeks harga komoditas ubi jalar,” kata Yomin. sda